Syarat Istri Menggugat Cerai
Ilustrasi Syarat Istri Menggugat Cerai

Syarat Istri Menggugat Cerai Suami, Ini Yang Dibolehkan Islam

Diposting pada

Infokua.com – Syarat Istri Menggugat Cerai Suami, mungkin ini yang kerap ditanyakan? Dalam hal ini apakah syarat cerai istri sama dengan persyaratan cerai pihak suami?

Karena ada seorang suami yang mengajukan gugatan cerai tanpa sepengetahuan istri? Bagaimana dengan istri gugat cerai tanpa sepengetahuan suami?

Namun satu hal yang perlu diketahui dalam hal ini. Bahwasannya, Nabi Muhammad SAW telah memberitahu kepada umatnya bahwa satu-satunya perkara yang sangat allah benci adalah perceraian sebuah pernikahan suami istri.

Dapat dilihat, perkara-perkara penceraian merupakan perkara yang seharusnya untuk dihindari dalam menjalankan bahtera rumah tangga.

Dalam pernikahan hanya suami yang memiliki otoritas atau kehendak untuk menceraikan istri, dilihat dari hak nya suami di dalam pernikahan pun, suami memiliki hak lebih tinggi daripada hak seorang istri.

Pada dasranya, istri yang meninggalkan rumah dan meminta cerai kepada suami merupakan tindakan yang tidak sepatutnya dilakukan.

Kecuali memang terdapat sebab-sebab atau latar belakang yang melatar belakangi hal tersebut.

Apakah Seorang Istri Boleh Menceraikan Suaminya?

Ada satu penjelasan yang semoga saja kita bisa memahaminya. Seperti penjelasan tentang talak. Talak merupakan aturan syariat yang berbentuk ucapan.

Ia adalah milik Allah yang diberkahi haknya kepada lelaki dan dijadikanlah talak berada ditangan lelaki. Para jumhur ulama dari empat imam madzhab serta yang lainnya berpendapat bahwa lelaki sebagaimana ia mempunyai hak menceraikan.

Ia juga mempunyai hak untuk mewakilkan talak sebagaimana aturan aturan syariat lainnya yang berbentuk ucapan seperti jual beli dan yan lainnya.

Apabila suami berkata kepada istrinya: “Aku wakilkan kepadamu untuk bisa menceraikan dirimu.” (atau yang lebih terkenal dizaman sekarang dengan istilah menjadikan kekuasaan berada ditangan istri).

Oleh karena itu apabila seorang istri yang diberikan perwakilan talah suaminya dibolehkan untuk menceraikan dirinya dan itu sah.

Sebaagaimana hal tersebut pernah terjadi pada para Sahabat Rasulullah SAW sesuai  perbedaan mereka dalam jumlah talak yang dimiliki para istri yang diwakilkannya.

Pemberian (mewakilkan) hak talak kepada istri ini tidak berarti mengambil hak suami untuk menceraiakannyam dan suami juga masih berhak untuk menceraikan istrinya.

Sebagaimana suami juga berhak untuk membatalkan pemberian hak ini, karena ini merupakan perwakilan maka dia juga boleh diambil kembali.

Abu Muhammad Ibnu Hazm berpendapat bahwa talak tidak bisa diwakilkan sama sekali, dan talak tidak bisa selain suami, karena ayat ayat talak yang berada dalam Al Quran disandarkan kepada lelaki.

Seperti Firman Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah [2]: (232): “Apabila kamu mentalak istri istrimu lalu sampai ‘iddahnya.”

Dan banyak lagi yang semisalnya. Dan kalau perempuan menceraiakan dirinya maka ini tidak termasuk ke dalam talak.

Syarat Istri Menggugat Cerai

Syarat Istri Menggugat Cerai
Ilustrasi Syarat Istri Menggugat Cerai

Rasulullah Saw bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: أيما امرأة سألت زوجها الطلاق من غير ما بأس فحرام عليها رائحة الجنة.

Rasulullah Saw bersabda, “Siapapun perempuan yang meminta talak kepada suaminya tanpa ada alasan maka haram baginya wewangian surga. (HR. Abu Daud dan Tirmizi)

Istri yang meminta cerai disebutkan tidak dapat mencium harumnya surga, apalagi untuk memasuki surga itu sendiri dipastikan sangat tidak diperbolehkan.

Hal ini disebabkan karena pernikahan sendiri merupakan perkara yang sangat dibenci allah walaupun sekarang  sudah dilegalkan demi kepentingan individu oleh negara dan agama.

Tetapi, apabila istri dalam keadaan yang selalu dirugikan yang disebabkan oleh perbuatan suaminya sendiri, yang membuat istri terpaksa untuk meminta cerai pada suami, maka itu diperbolehkan.

Baca Juga: Macam Macam Talak, Ini Pengertian & Ketentuannya

Dibawah ini merupakan sebab-sebab yang diperboleh apabila istri ingin meminta cerai kepada suami atau sebagai syarat istri menggugat cerai suaminya dan diperbolehkan berdasarkan banyak penjelasan dari berbagai sumber, yaitu:

Pertama, Suami tidak mampu memenuhi hak-hak istrinya. Sudah kewajiban suami untuk memenuhi hak-hak istri.

Misalkannya saja, Hak-hak yang didapatkan istri yang didapatkan dari suami yaitu seperti memberi nafkah, tempat tinggal yang memadai, pergaulan yang baik ternyatya tidak dapat dipenuhi.

Dan apabila, suami memiliki sifat yang pelit dan tidak dapat memenuhi semua kebutuhan dasar yang diperlukan istrinya setelah sekian lama, maka istri memiliki hak untuk meminta cerai.

Ibnu Qudamah dalam al-Mughni mengatakan termasuk dalam hal ini apabila suami tidak dapat memenuhi nafkah istrinya akibat apapun.

Sehingga, seorang istri berada pada kondisi yang dipenuhi kebimbangan antara meminta cerai atau bersabar.

Kedua, suami melakukan kekerasan kepada istri. Suami yang memukul dan mencela, menghina, dan merendahkan harga diri istrinya merupakan tindakan yang sangat dilaknat Allah SWT.

Apalagi jika suami melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) tanpa ada sebab yang melandasi, melainkan hanya karena kekesalan emosi semata.

Islam sangat mearang seorang suami yang mekakukan kekerasan pada istri baik secara herbal maupun non verbal.

Apabila suami telah melakuka KDRT kepada istri, maka istri berhak meminta cerai kepada suami, walaupun tidak ada saksi yang melihat kekerasan tersebut.

Baca Juga: Hukum Istri Meninggalkan Suami, Ini Penjelasan Dalam Islam

Ketiga, suami melakukan perjalanan dan tidak kembali atau pergi dalam waktu yang sangat lama. Sehingga istri mengalami kondisi yang darurat dan tidak ada yang menajaganya karena ditinggal suami.

Kepergian suami yang melebihi waktu enam bulan, sehingga dikhawatirkan terjadinya fitnah yag terjadi pada istri.

Sebagaimana hal itu diterangkan dalam al-Mughni

وسئل أحمد أي ابن حنبل رحمه الله: كم للرجل أن يغيب عن أهله؟ قال: يروى ستة أشهر.

Ibnu Qudamah berkata, “ Imam Ahmad, yaitu Ibn Hanbal rahimahullah ditanya, ‘berapa lama bagi laki-laki menghilang dari keluarganya?” dia berkata, “diriwayatkan enam bulan”.

Keempat, suami menjadi narapidana dan ditahan dalam waktu yang lama.

Menurut mazhab malikiyah dalam mausu’ah al-fiqhiyah al-kuwaitiyah mengemukakan pendapatnya, yaitu memperbolehkan istri untuk meminta cerai pada suami yang ditahan.

Karena, dikhawatirkan selama suami menjalani masa tahananya dan tidak adanya suami disisi istrinya, sehingga istri tidak ada yang menjaga dan menafakahinya.

Kelima, apabila suami divonis memiliki sebuah penyakit yang dapat menular pada orang yang berada disekitarnya seperti HIV, penyakit impoten, atau penyakit yang membahayakan lainnya.

Maka, istri dapat meminta cerai kepada suami.

Keenam, suami yang tidak dapat menjadi panutan istri dalam agama. Buruknya sifat suami yang melakukan perbuatan dosa-dosa besar yang diharamkan agama.

Sehingga membuat istri dapat terjerumus dalam murka Allah SWT apabila mengikuti perintahnya, atau suami yang tidak dapat menjalakanan kewajiban dan menyebabkan kekafiran pada pernikahan.

Baca Juga: Istri Kabur Dari Suami, Apa Hukumnya?

Dapat kita lihat seperti suami yang berjudi, meminum-minuman keras, bahkan ada suami yang sampai menyuruh dan merelakan istrinya untuk ditiduri oleh pria lain demi mendapatkan uang untuk melakukan maksiat lainnya.

Istri yang mengalami kondisi ini, da sudah bersabar dan menyuruh suaminya untuk bertobat dan memperbaiki akhlaknya kembali, namun sang suami tetap menghiraukannya.

Maka dapat meminta cerai pada suami, karena tidak ada lagi keridhoan allah pada suami yang seperti ini, dan Allah swt sangat melaknat suami yang melakukan hal tersebut kepada istrinya sendiri.

Hanya seorang suamilah yang dapat menjatuhkan talak.

Bagi seorang istri yang meninggalkan suami dalam waktu yang lama tanpa diusir, jika suami tidak pernah mejatuhkan talak kepadanya, maka istri tersebut tetp menjadi sitri sah sang suami.

Istri yang meninggalkan suaminya untuk bekerja hukumnya berdosa apabila sang suami tidak mengizinkannya, karena dapat menyebabkan sang istri lalai dalam menjalankan kewajibannya sebagai istri.

Suami merupakan pemimpin yang harus ditaati setelah seorang perempuan menikah. Hal ini disebabkan kedudukan hak suami harus diutamakan bahkan diatas kebutuhan sang istri.

Apabila seorang istri yang meninggalkan suami dalam jangka waktu enam bulan lamanya, maka hal itu belum cukup untuk menjadi alasan suami untuk menceraikan istri, meskipun suami dapat menjatuhkan talak sewaktu-waktu.

Dosa Istri Meninggalkan Suami dan Anaknya

Dosa seorang istri yang meninggalkan suami dan anaknya merupakan dosa besar dan sangat dilaknat Allah swt dan dimarahi oleh para malaikat Allah.

Sabda Rasullulah SAW :

Hak suami terhadap isterinya adalah isteri tidak menghalangi permintaan suaminya sekalipun semasa berada di atas punggung unta,

tidak berpuasa walaupun sehari kecuali dengan izinnya, kecuali puasa wajib. Jika dia tetap berbuat demikian, dia berdosa dan tidak diterima puasanya.

Dia tidak boleh memberi, maka pahalanya terhadap suaminya dan dosanya untuk dirinya sendiri. Dia tidak boleh keluar dari rumahnya kecuali dengan izin suaminya.

Jika dia berbuat demikian, maka Allah akan melaknatnya dan para malaikat memarahinya kembali , sekalipun suaminya itu adalah orang yang alim.

(Hadist riwayat Abu Daud Ath-Thayalisi daripada Abdullah Umar)

Dalam syariat islam telah diketahui pasti tentang keharaman zina dan hal tersebut termasuk kedalam dosa besar.

Apabila suami memiliki hubungan haram terhadap wanita lain atau berselingkuh diharapkan segera bertaubat kepada Allah SWT.

Selain itu juga, memperbaiki pernikahannya kembali. Suami yang berselingkuh sangat diharamkan Allah swt perbuatannya.

Karena itu, hukuman bagi pelakunya adalah rajam hingga meninggal. Ketika istri telah mengetahui suaminya berselingkuh baik dengan melalui pengakuan suaminya atau dari bukti-bukti yang didapatkan.

Maka sebaiknya peran istri ialah menasehatinya agar kembali bertaqwa kepada Allah SWT.

Istri harus bersabar dan menghentikan hubungan haram sang suami terhadap wanita lain dengan memperbanyak amal saleh.

Dan tentunya juga menunjukkan ketaatannya kepada sang suami sembari mengingatkannya dari kejahatan dan kemaksiatan yang dilakukannya.

Namun apabila sang suami tidak dapat diingatkan dan diluruskan kembali akhlaknya, maka istri dapat meminta cerai.

Kesimpulan Syarat Syarat Istri Menggugat Cerai Suaminya

Ada beberapa point yang perlu dipahami dalam hal ini. Berdasarkan banyaknya sumber informasi menyebutkan istri bisa saja meminta cerai, ketika memang dalam keadaan yang membahayakan bagi dirinya dan bagi agamanya Islam.

Namun pada pointnya talak merupakan milik Allah yang diberikan haknya kepada lelaki dan dijadikanlah talak berada ditangan lelaki.

Namun jika memang dalam keadaan terancam, apakah sebab di atas dapat menjadi rujukan, sebaiknya mencari sumber refrensi lain langsung ke guru agama yang diyakini memahami bidang yang ingin ditanyakan ini.

Sekian yang bisa disampaikan. Semoga informasi syarat istri menggugat cerai ini dapat bermanfaat. Dilain waktu jika sudah jatuh talak, namun infgin rujuk, silakan Baca Juga: Cara Rujuk Talak 1, Ini Syarat & Penjelasan Dalam Islam.

Sekian, terimakasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *