syarat perceraian
Ini syarat syarat perceraian yang harus disiapkan | Infokua.com

Syarat Cerai Suami Istri dan Biaya Gugatan Cerai

Diposting pada

Infokua.comSyarat Cerai adalah beberapa di antara yang harus dipenuhi ketika memutuskan untuk bercerai baik gugat cerai, maupun cerai talak. Baik dari suami maupun dari sang istri.

Jadi, dalam hal ini yang akan kita ketahui adalah terkait syarat perceraian jarak jauh, baik dalam hal syarat cerai istri maupun syarat cerai suami.

Karena meski dalam beberapa hal sama, namun di beberapa bagian persyaratan cerai pihak istri berbeda dari persyaratan cerai pihak suami.

Dan berikut ini penjelasan terkait syarat cerai gugat dan cerai talak dan biaya gugat cerai dari pihak istri maupun suami dan tata cara mengurus surat cerai 2019 ini:

Syarat Pengajuan Cerai Oleh Suami

syarat pengajuan cerai oleh suami
syarat pengajuan cerai oleh suami } Ilustrasi

Pengajuan permohonan cerai oleh pihak suami di pengadilan agama disebut dengan istilah CT (Cerai Talak).

Menurut hukum islam yang menjadi agama mayoritas di Indonesia, suami mempunyai wewenang untuk menjatuhkan cerai terhadap istrinya.

Tapi meskipun demikian, bukan berarti segala pengajuan cerai oleh suami bisa begitu saja diakui oleh pemerintah.

Para suami tetap harus melakukan pengajuan permohonan cerai ke pengadilan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. Karena baik suami maupun istri memiliki kedudukan yang sama di mata hukum Indonesia:

1. Adanya Ucapan Talak dari Suami Kepada Istri

Dalam islam talak merupakan titik penting perceraian antara suami dan istri.

Talak berasal dari bahasa arab atau yang biasa disebut thalaq berasal yang diambil dari kata thalaqa-yuthliqu-thalaqan yang memiliki arti yang sama dengan kata thaliq yang bermakna al irsal atau tarku, yang berarti melepaskan dan meninggalkan.

Perceraian dalam islam diawali dengan jatuhnya talak oleh suami kepada istri. Setelah talak dijatuhkan maka suami telah memutuskan ikatan suami dengan istrinya.

Namun di Indonesia ha ini harus dilanjutkan dengan proses persidangan.

2. Talak Tidak Diucapkan Dalam Keadaan Mabuk 

Utsman bin ‘Affan ra. berkata,

Semua bentuk talak berlaku, kecuali talak (cerai) yang diucapkan orang mabuk dan orang gila”

Artinya suami yang menjatuhkan talak kepada istrinya harus dalam keadaan sadar dan sehat jasmani maupun rohani serta tanpa paksaan dari pihak manapun. Dengan begitu talak dapat dikatakan sah.

Sebab pada dasarnya orang yang dalam kondisi mabuk sedang tidak berada dalam tingkat kesadarannya.

Oleh karenanya semua ucapan yang dikatan tidak memliki arti yang bermakna atau dalam lain kata hanya sebagai bualan saja.

Sehingga talak yang diucapkan oleh orang yang sedang mabuk tidak diterima dan tidak dianggap talak yang sah.

3. Tidak Ada Paksaan dari Pihak Manapun

Baiamanapun keadaannya perpisahan merupakan hal yang indah. Apalagi jika sudah melewati banyak kenangan bersama.

Hal ini dapat menjadi suatu ujian sangat berat bagi kedua belah pihak dengan mengambil keputusan yang besar ini.

Oleh karena itu, yang perlu ditekankan dalam hal ini adalah perceraian harus murni berdasarkan keputusan kedau belah pihak tanpa ada paksaan atau hasutan dalam bentuk apapun dan dari pihak manapun.

Karena islam telah mengatur hal ini, sebagaimana hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah bahwa perceraian yang dilandasi dengan paksaan akan gugur hukumnya

Sesungguhnya Allah menggugurkan (pahala atau dosa) atas umtku dalam beberapa perbuatan yang dilakukan karena kesalahan, lupa, dan dipaksa.” (HR. Ibnu Majah)

4. Tidak Diucapkan Dalam Keadaan Marah

Sudah menjadi ssifat manusia yang memiliki emosi, apalagi jika dipercik api oleh syaiton nir rajim. Manusia dalah tempatnya dosa dan khilaf, maka jangan sekali-kali mengucapkan talak dalam keadaan marah.

Meskipun hukumnya tidak sah, tapi perkataan tersebut bisa saja menyakiti hati pasangan. Hadist yang menerangkan hal ini adalah:

“Tidak berlaku talak (cerai) ataupun memerdekakan budak dalam keadaan pikiran . Abu Dawud dan Ahmad)

5. Merupakan Keputusan yang Diambil oleh Kedua Belah Pihak

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, syarat sah cerai dalam islam adalah jika keputusan tersebut murni berdasarkan keputusan kedua belah pihak baik istri maupun suami tanpa paksaan dari pihak manapun.

Karena tidak jaranng justru yang mengompori perceraian justru datang dari pihak keluarga yang terlalu ikut andil dalam persoalan rumah tangga.

Oleh sebab itu mulailah dengan mempercayai pasangan masing-masing sehingga komunikasi yang ada akan berjalan baik.

Berikut adalah syarat-syarat pengajuan permohonan cerai oleh suami di Pengadilan Agama yang harus dipersiapkan:

  • Kartu identitas

Wajib untuk membawa kartu identitas yang menjalaskan nama dan alamat yang jelas. Kartu identitas dapat berupa KTP atau krtu yang setara.

Jika tidak punya salah satu atau keduanya, anda bisa meminta surat keterangan domisili dari kelurahan atau desa tempat anda tinggal.

  • Buku Nikah

Jika anda nikah secara sah secara agama dan hukum tentunya akan dilengkapi dengan buku nikah atau akte kutipan nikah yang resmi. Buku nikah menjadi syarat pengajuan permohonan cerai.

Minimal harus disiapkan satu buah buku nikah, baik dari pihak istri atau suami namun sebaiknya dibawa kedua-duanya lebih baik.

Jika buku nikah hilang atau rusak maka anda wajib untuk mengurusnya ke kantor urusan agama atau kantor catatan sipil.

Kemudian anda bisa meminta untuk duplika buku nikah, ingat permintaan duplikat buku nikah ini harus sesuai dengan domisili anda melangsungkan pernikahan.

  • Akta Kelahiran Anak

Syarat ini hanya wajib jika anda sudah mempunyai anak hasil dari perkawinan dengan pasangan. Akta kelahiran yang dilampirkan cukup dengan Foto Copy.

  • Surat Kepemilikan Harta

Khusus bagi anda yang ingin menyertakan harta gono gini dalam permohonan cerai, anda harus menyertakan surat kepemilikan harta seperti BPKB, Sertifikat Rumah, Tanah dan lain sebagainya.

Anda perlu untuk photo copy surat kepemilikan harta tersebut dan aslinya bisa anda bawa pada saat persidangan berlangsung.

  • Surat menyediakan Permohonan Cerai

Surat permohonan cerai biasanya dibantu dibuatkan di bagian Pusat Bantuan Hukum Pengadilan Agama yang bersangkutan.

Untuk berjaga-jaga apabila pengadilan agama tidak ini layanan pusat bantuan hukum maka anda bisa membuat surat permohonan cerai sendiri.

Anda bisa meminta bantuan orang-orang yang mengerti hukum atau bisa menggunakan jasa advokat atau pengacara. Surat permohonan cerai harus ditulis dengan jujur sesuai dengan fakta-fakta yang terjadi.

Karena pada surat permohonan akan dimintai keterangan alasan mengapa anda mengajukan cerai, maka jawablah bagian itu sejujur-jujurnya dan biarkan majelis hakim yang menilai keabsahannya.

Syarat Cerai Istri

hukum istri mengucapkan cerai
hukum istri mengucapkan cerai

Dokumen yang wajib istri siapkan antara lain:

  1. Surat nikah asli
  2. Fotokopi surat nikah sebanyak 2 lembar dalam kondisi bermaterai dan telah dilegalisir
  3. Fotokopi akta kelahiran anak yang sudah bermaterai dan legalisir (kalau ada)
  4. Fotokopi KTP
  5. Fotokopi Kartu Keluarga (KK)
  6. Jika disertai dengan harta bersama atau harta gono-gini maka perlu melampirkan bukti kepemilikian seperti surat tanah, STNK, atau BPKB.

Namun satu hal yang harus diketahui untuk sang istri yang meminta bercerai adalah sebagai berikut: Baca : Hukum Istri Mengucapkan Cerai, Ini Penjelasannya.

Syarat Perceraian Dalam Islam

Alasan-alasan perceraian yang dapat dibenarkan berdasarkan pasal 19 PP No.9 Tahun 1975 Pasal 116 Kompilasi Hukum Islam yaitu :

  1. Salah satu pihak baik suami maupun istri berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan.
  2. Salah satu pihak baik suami maupun istri meninggalkan pihak lain selama 2 tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain diluar kemampuannya.
  3. Salah satu pihak baik suami maupun istri mendapat hukuman penjara 5 tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung.
  4. Salah satu pihak baik suami maupun istri melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak yang lain.
  5. Salah satu pihak baik suami maupun istri mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami/isteri.
  6. Antara suami dan isteri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga.
  7. Suami melanggar taklik talak.
  8. Peralihan agama atau murtad yang menyebabkan terjadinya ketidak rukunan dalam rumah tangga.

Syarat Perceraian Jarak Jauh

Bagaimana jika ketika ingin melakukan permohonan gugatan cerai tapi posisi tidak berada di tempat?

Maka solusinya dalah dengan menguasakannya melalui Surat Kuasa kepada Advokat atau menguasakan kepada Saudara Anda dengan menggunakan Kuasa Insidentil dimana domisili kuasa hukum Anda ataupun yang diberikan kuasa dapat dipilih sebagai domisili Anda sebagai Penggugat.

Selain memberikan Surat Kuasa kepada seorang Advokat / Pengacara untuk mewakili kepentingan Anda saat akan mengajukan gugatan perceraian.

Anda juga dapat memberikan Surat Kuasa kepada seseorang yang masih mempunyai hubungan keluarga sedarah atau semenda dengan Anda yang selanjutnya disebut sebagai Kuasa Insidentil.

Kuasa insidentil juga tidak sembarangan karena kuasa ini dapat diberikan apabila memenuhi syarat kuasa insidentil.

Surat Kuasa Insidentil hanya dapat dikeluarkan oleh Pengadilan dan hanya dapat diberikan setelah mendapatkan ijin dari Ketua Pengadilan jika Penerima Kuasa memenuhi syarat-syarat sebagai berikut  :

  1. Penerima Kuasa bukan merupakan seorang advokat / pengacara ;
  2. Penerima Kuasa harus merupakan orang yang mempunyai hubungan keluarga sedarah atau semenda dengan Pemberi Kuasa sampai derajat ketiga yang dibuktikan dengan melampirkan Surat Keterangan Hubungan Keluarga dari Lurah / Kepala Desa ;
  3. Penerima Kuasa tidak bersedia menerima imbalan atau upah
  4. Pada pepanjang tahun berjalan Penerima Kuasa belum pernah bertindak sebagai Kuasa Insidentil pada perkara yang lain.

Hukum Perceraian di Indonesia

hukum perceraian di Indonesia
Hukum Perceraian di Indonesia dan Dalam Islam | Infokua.com

Dalam sebuah pernikahan, perceraian merupakan suatu peristiwa yang terkadang tidak dapat dihindarkan oleh pasangan menikah karena suatu keadaan tertentu.

Baik mereka yang baru saja menikah sebagai pasangan muda atau mereka yang sudah lama menikah.

Perceraian merupakan salah satu dari beberapa sebab putusnya hubungan perkawinan di luar sebab lain yaitu kematian dan atau atas putusan pengadilan seperti yang terdapat di dalam Pasal 38 UU Perkawinan.

Saat mengajukan gugatan cerai di pengadilan, baik itu di Pengadilan Agama maupun Pengadilan Negeri, sangat disarankan pihak penggugat dan pihak tergugat dapat didampingi oleh advokat (pengacara) sebagai orang yang ahli dalam hukum.

Advokat selain dapat mendampingi para pihak yang beracara, Advokat juga akan membantu untuk menjembatani dialog antara para pihak yang akan bercerai terkait dengan kesepakatan-kesepakatan.

Seperti harta gono gini, tunjangan hidup, hak asuh anak, dan hal-hal penting lainnya yang harus dibicarakan secara seksama.

Dasar hukum perceraian

Indonesia sendiri telah mengatur dasar hukum perceraian dalam UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975.

Berdasarkan UU tersebut, diperbolehkan atau dimungkinkan salah satu pihak baik istri maupun suami untuk melakukan gugatan perceraian.

Meskipun demikian, terdapat perbedaan antara penganut agama Islam dan non Islam dalam soal perceraian ini.

Untuk pasangan suami istri yang beragama islam dapat bercerai dengan dimulai permohonan talak oleh suami atau dengan gugatan cerai oleh istri yang didaftarkan kepada pengadilan agama.

Bedanya untuk pasangan suami istri non muslim adalah tempat pengajuan cerai yang dapat melalui pengadilan negri tanpa harus menjatuhkan talak kepada istri terlebih dahulu.

Jadi baik istri dan suami memilki hak yang sama ketika akan mengajukan gugatan.

Dasar hukum perceraian dalam islam

Hukum Perceraian Dalam Islam
Hukum Perceraian Dalam Islam – Infokua.com

Islam sebagai agama rahmatan lil alamin telah mengatur segala sesuatu dalam al Quran.

Tidak hanya aturan dalam beribadah, seperti sholat, zakat, puasa, haji dan lain-lain, Islam juga turut memberi aturan pada manusia dalam kehidupannya bersosialisasi mengingat manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan satu sama lain.

Bahkan, al Quran juga mengatur adab dan aturan dalam berumah tangga, termasuk bagaimana jika dalam menjalani ikatan suami istri terdapat masalah dan ujian yang sulit untuk diselesaikan.

Islam memang menghalalkan perceraian, tapi ingat Allah sangat membenci perceraian.

Dengan demikian, bercerai adalah pilihan terakhir bagi pasangan suami istri ketika memang tidak ada lagi jalan keluar yang dapat diambil. Dalam surat al Baqarah ayat 227 Allah berfirman;

“Dan jika mereka berketetapan hati hendak menceraikan, maka sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” 

Ayat tentang hukum perceraian ini kemudian berlanjut pada surat al Baqarah ayat 228 hingga ayat 232. Masha Allah.

Sebagaimana dalam surat Al-baqarah yang telah disebutkan di atas, diterangkan mengenai aturan-aturan hukum talak, masa iddah bagi istri, hingga aturan bagi wanita yang sedang dalam masa iddahnya.

Jika kita mencoba pahami ayat-ayat tersebut, kita bisa mengetahui bahwa agama Islam memberi aturan yang sangat lengkap tentang hukum perceraian.

Tentu saja aturan-aturan ini tetap memperhatikan kemaslahatan pihak suami dan istri dan mencegah adanya kerugian di salah satu pihak.

Kemudia bagaimana jika istri meminta cerai dalam islam? Berikut hukum istri minta cerai dalam islam.

  1. Seorang istri dapat menggugat suami hanya dengan diikuti alasan yang jelas dan tentunya tidak dengan paksaan dari pihak manapun.

Dalam sebuah riwayat dijelaskan bahwa barang siapa istri yang meminta cerai tanpa alasan yang jelas maka Allah sangat membencinya.

“Siapa saja wanita yang meminta (menuntut) cerai kepada suaminya tanpa alasan yang dibenarkan maka diharamkan bau surga atas wanita tersebut.”

(HR. Abu Dawud, Al-Tirmidzi, dan Ibnu Majah. Dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud).

Baca Juga: Gugatan Cerai Suami Terhadap Istri, Ini Syarat Pengajuannya

Itulah yang bisa kita pahami, adapun terkait cara mengurus surat cerai, bisa di baca di artikel berikut: Cara Mengurus Surat Cerai, Gratis dan Bisa Buat Sendiri.

Namun saran penulis hindari perceraian. Cobalah berdamai, kembali hidup rukun, benahi hubungan rumah tangga agar kembali harmonis.

Karena sebaik baiknya rumah tangga adalah yang mampu kembali pada keharmonisan dan menghindari perceraian. Sekian yang bisa disampaikan, semog bermanfaat.

One thought on “Syarat Cerai Suami Istri dan Biaya Gugatan Cerai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *