rukun nikah

Rukun Nikah: Pengertian, Syarat dan Hukumnya

Diposting pada

Infokua.com – Rukun Nikah. Ada banyak hal yang harus kita ketahui dan pelajari tentang artikel pernikahan, dari syarat nikah, hukum nikah, hingga yang akan kita bahas kali ini, yakni rukun nikah.

Selain itu bagaimana tentang apa saja yang diperlukan dalam pernikahan, penentuan saksi-saksi dan lain sebagainya untuk menunjang keberhasilan keberlangsungan pernikahan.

Intinya menikah adalah ibadah yang harus dijalankan untuk melengkapi separuh iman seorang manusia. Pada umumnya disebagian besar masyarakat mengenal rukun nikah ada 5, di antaranya sebagai berikut yang kerap diperbincangkan:

  1. Adanya seorang suami
  2. Adanya seorang istri
  3. Adanya seorang wali
  4. Adanya mahar
  5. Adanya shighat (ungkapan khas menikahkan dan menerima nikah)

Lima rukun nikah ini diterangkan dalam kitab Quratu al-Aini karya al-imam Ahmad ibn Hajar al-Haytami. Diterangkannya, bahwa rukun nikah itu terdiri dari suami, istri, wali, dua saksi seorang laki-laki, dan shighat nikah.

Namun untuk lebih jelasnya, kita simak beberapa penjelasan dan ulasan tentang rukun nikah berikut ini, hal ini setidaknya untuk memantapkan kita tentang apa saja rukun yang harus kita ketahui dalam pernikahan:

Pengertian Rukun Nikah

pengertian rukun nikah

Pernikahan adalah idaman bagi setiap insan, baik laki laki maupun wanita. Dan bagi yang ingin menikah atau akan melaksanakan pernikahan, sudah seharusnya memahami tentang apa yang dimaksud rukun nikah?

Mari kita bedah satu per satu, ada beberapa orang yang menyebutkan kenapa nikah juga memiliki penyebutan rukun? Di dalam syariah islam, rukun merupakan tingkah laku.

Atau juga disebut dengan amal ibadah. Berarti hal ini dikatakan sah atau tidaknya tingkah laku seseorang dengan aspek hukum. Nah dalam hal ini tentunya adalah berkaitan tentang rukun dalam pernikahan dan aspek hukum nikahnya.

Pengertian nikah dalam Al-quran dijelaskan digunakan dengan kata Zawaj. Atau artinya yakni bersama pasangan. Nahy, rukun dan syarat nikah juga disebut sebagai penentu tingkah laku hukum, terutama yang menyangkut sah tidaknya tingkah lakuy dari aspek hukum, dalam hal ini terkait pernikahan.

Secara bahasa, nikah dimaksudkan dalam artian mengumpulkan, menghimpun. Berdasarkan syari’at, nikah adalah suatu akad dengan tujuan menghalalkan seorang lelaki dengan perempuan yang hendak dinikahi.

Namun tetap ada catatan-catatan yang harus dipenuhi, seperti di awal kita bahas. Lalu apa alasannnya unsur-unsur rukun dalam pernikahan harus terpenuhi?

Hal ini dikarenakan berkaitan tentang sah atau tidaknya, diterima atau tidaknya sebuah pernikahan dengan terpenuhinya syarat-syarat khusus syariat agama tentang bisa dilangsungkannya pernikahan.

Sementara hukum nikah adalah sunah muakad. Jadi hukum pernikahan adalah sunnah dan sangat dianjurkan nabi. Namun hukum nikah sesuai dengan niat dari seseorang menikah.

Misalnya saja, jika nikat menikah karena ingin menghindari perzinahan, maka menikah adalah sunnah. Namun jika niat menikah dengan niatan buruk, maka hukum nikahnya makruh dan bahkan menjadi haram.

Rukun Nikah Dalam Islam

rukun nikah dalam islam
Rukun Nikah Dalam Islam | Ilustrasi

5 rukun tentang pernikahan di atas merupakan rukun nikah dalam islam. Dan masing-masing memiliki penjelasan mengapa menjadi salah satu rukun yang harus dipenuhi agar syarat nikah sah di mata hukum dan syariat Islam.

Untuk itu, rukun rukun dalam pernikahan ini harus terpenuhi. Hulangnya rukun, maka dapat mengakibatkan penikahan menjadi tidak sah atau pernikahan bisa saja menjadi batal.

Maka, kita sebaiknya harus benar-benar memahami akan arti pentingnya rukun nikah, berikut di antara penjelasannya:

1. Adanya Calon Mempelai Laki-Laki

Pertama adanya calon pengantin pria atau calon mempelai laki-laki atau disebut dengan calon suami. Jadi, rukun nikah pertama adalah adanya calon suami bagi mempelai perempuan.

Dan diharapkan rukun pertama ini tidak menghalangi secara syar’i calon pengantin. Untuk itu ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, di antaranya syarat bagi laki laki yang akan menjadi calon suami.

Yang harus diperhatikan untuk memenuhi rukun nikah adanya calon pengantin pria ini di antaranya adalah terpenuhinya kriteria calon laki-laki sesuai syariat islam berikut:

  • Beragama Islam,
  • Seorang laki-laki,
  • Bukan mahram bersama calon istri,
  • Paham wali yang sebenarnya bagi akad nikah tersebut,
  • Tidak sedang melaksanakan ibadah ihram haji atau umroh,
  • Bersama kerelaan sendiri dan bukan dalam suasana terpaksa,
  • Tidak memiliki 4 istri sah dalam satu waktu,
  • Paham wanita mengidamkan dinikahi dan sah dijadikan istri.

Kenapa seseorang yang tengah menjalankan ibadah ihram juga masuk kriteria yang disebutkan dalam rukun pernikahan seorang pengantin pria. Dijelaskan dalam sebuah hadits sebagai berikut, disampaikan bahwa:

“Seorang yang sedang berihram tidak boleh menikahkan, tidak boleh dinikahkan, dan tidak boleh mengkhitbah.” (HR. Muslim no. 3432)

2. Adanya Calon Mempelai Perempuan

Rukun Nikah kedua adalah adanya calon mempelai perempuan atau calon istri. Yang harus diperhatikan adalah agar rukunya terpenuhi, calon istri yang hendak dinikahi atau yang hendak menikah tidak ada yang menghalangi sesuatu hal sehingga dapat menyebabkan syar’i menikah menjadi terlarang.

Maka beberapa syarat harus dipenuhi, di antaranya adalah sebagai berikut:

  • Seorang perempuan
  • Perempuan yang hendak menikah/dinikahi beragama Islam
  • Perempuan yang hendak menikah/dinikahi bukan mahram berasal dari calon suami.
  • Perempuan yang hendak menikah/dinikahi sudah akil baligh.
  • Perempuan yang hendak menikah/dinikahi tidak dalam suasana berihram haji atau sedang umroh.
  • Perempuan yang hendah menikah/dinikahi tidak dalam era iddah.
  • Perempuan yang hendak menikah/dinikahi bukanlah istri orang lain.

rukun nikah sirih

3. Adanya Wali Nikah Dalam Pernikahan

Ketiga, Rukun Nikah yang harus dipenuhi adalah dengan adanya wali nikah dalam akad pernikahan. Ini menjadi sangat penting. Terlebih dalam hadits Rasululullah SAW menerangkan berkenaan adanya wali dalam pernikahan:

“Tidak ada nikah kecuali bersama ada wali.” (HR. Al-Khamsah kecuali An-Nasa`i, dishahihkan Al-Imam Al-Albani t dalam Al-Irwa` no. 1839).

Selain itu, dijelaskan juga:

“Wanita mana saja yang menikah tanpa izin wali-walinya maka nikahnya batil, nikahnya batil, nikahnya batil.” (HR. Abu Dawud no. 2083, dishahihkan Al-Imam Al-Albani t dalam Shahih Abi Dawud).

Bahkan, tak sekedar adanya wali nikah saja. Wali nikah juga harus memenuhi beberapa syarat yang dianjurkan sebagai salah satu syariat islam tentang wali nikah, di antaranya, syarat-syarat wali nikah tersebut adalah sebagai berikut:

  • Wali adalah seorang laki-laki
  • Wali nikah memiliki akal
  • Wali nikah beragama Islam
  • Wali nikah sudah akil baligh
  • Wali nikah tidak sedang dalam kondisi berihram haji atau umrah
  • Wali nikah tidak fasik
  • Wali nikah tidak cacat akal pikiran, gila atau bahkan sudah berusia sangat tua

Nah yang hyarus kita ketahui, tanpa adanya wali nikah yang memiliki kriteria di atas, maka itu bathil dan pernikahan yang dilangsungkan tidak sah.

Selanjutnya, dalam hukum islam di Indonesia yang juga berkenaan dengan hukum pernikahan, bahwa adanya wali nikah terdiri dari, wali nasab dan wali hakim.

Wali hakim diketahui baru bisa bertindak kecuali wali nasab tidak ada atau bahkan tidak mungkin menghadirkannya atau bahkan tidak diketahui area tinggalnya.

4. Adanya 2 Orang Saksi

Rukun Nikah nikah selanjutnya adaah adanya dua oranng saksi. Ya, di dalam suatu pernikahan yang harus kita ketahui adalah saksi merupakan sebuah keharusan yang dihadirkan dalam pernikahan dan tidak boleh ditiadakan.

Saksi di dalam sebuah pernikahan adalah salah satu rukun pelaksanaan akad nikah. Maka pernikahan harus dipersaksikan dua orang saksi.

Seperti hadits HR. Al-Khamsah kecuali An-Nasa`i, dishahihkan Al-Imam Al-Albani t dalam Al-Irwa’ no. 1839, 1858, 1860 dan Shahihul Jami’ no. 7556, 7557. Berikut kutipannya:

“Tidak ada nikah kecuali bersama ada wali dan dua saksi yang adil.”

Tentang beberapa syarat saksi dalam akad nikah adalah sebagai berikut:

  • Saksi nikah adalah seorang muslim dan seorang laki – laki.
  • Saksi dapat bersikap adil
  • Saksi adalah seseorang yang sudah akil baligh
  • Seorang saksi tidak terganggu ingatannya (kesehatan)
  • Seorang saksi tidak mengidap tuna rungu atau tuli.
  • Saksi hadir saat presosesi akad nikah.

5. Adanya Ijab dan Qabul (Shighat)

rukun nikah dalam islam
Rukun Nikah Dalam Islam | Ilustrasi

Rukun Nikah ke lima adalah adanya ijab dan qabul saat berlangsungnya akad pernikahan. Jadi ijab dan wabul ini adalah rukun yang berasal dari adanya pernikahan.

Sebab, ijab dan qabul merupakan tanda adanya akad pernikahan dan prosesi pernikahan tengah berlangsung. Nah kita sedikit bedah yuk, apa itu ijab dan apa itu qobul.

  • Ijab adalah lafadz ucapkan pernikahan oleh seorang wali nikah atau orang yang tengah menukar wali. Contohnya: “Ankahtuka Fulanah” (“Aku nikahkan engkau bersama Fulanah”) itu dalam bahasa arabnya. Dalam bahasa Indonesia, lafadz pada umumnya, “Saya nikahkan anda bersama … binti …. bersama mas kawin berwujud cincin emas dibayar tunai.”

  • Qabul adalah lafadz yang disampaikan atau diucapkan calon suami (pengantin pria) atau wakilnya. Contoh qabul yang diucapkan pengantin pria: “Qabiltu Hadzan Nikah” atau “Qabiltu Hadzat Tazwij” (“Aku menerima pernikahan ini”), dalam bahasa Indonesia umumnya, “Saya menerima nikahnya bersama … binti ….. bersama mas kawin berwujud seperangkap alat salat dibayar tunai.”

Apakah Mahar Termasuk Rukun Nikah?

rukun nikah

Menarik sekali jika dibahas. Sebab, rukun pernikahan di atas itu menjelaskan 5 rukun dalam islam. Namun, bagaimana dengan mahar. Apakah masuk ke dalam rukun sahnya pernikahan.

Sebenarnya termasuk, namun terkait mahar pernikahan atau yang kerap disebut dengan sebutan mas kawin ini, sebaiknya dikatakan oleh seorang calon pengantin perempuan atau wanita yang mulia adalah wanita yang murah maharnya.

Nah bagaimana nih teman-teman Info KUA, sebenarnya sederhana dan sangat mudah yang rukun nikah dalam islam di atas dan menjadi rukun yang umum digunakan dalam pernikahan di Indonesia dalam naungan Kantor Urusan Agama.

Yap, benar, memang mudah, sebab, pernikahan itu adalah suatu aktifitas yang dicintai Allah dan RasulNya. Selain itu, menikah adalah jalur hidup (sunnah) Rasululllah Muhammad SAW.

Informasi Tentang Pernikahan

Persyaratan Nikah di KUA 2019
Alur Pelayanan dan Persyaratan Nikah di KUA

Selanjutnya ada beberapa informasi lainnya tentang pernikahan, atau syarat-syarat nikah, syarat numpang nikah dan sebagainya yang bisa juga kita pelajari, untuk memudahkan apa saja yang dibutuhkan untuk melangsungkan pernikahan, di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Persyaratan Nikah di KUA 2019 Berikut Dengan Biayanya

  2. Usia Ideal Menikah Dalam Islam Wajib Dipelajari, Baca Disini

  3. Syarat Nikah Beda Provinsi 2019 dan Cara Mengurusnya

  4. 4 Cara Mendapatkan Surat Numpang Nikah

  5. Syarat Numpang Nikah dan Cara Mudah Mengurusnya

  6. Cara Mengurus Surat Numpang Nikah dan Alur Prosedurnya

Demikianlah ulasan tentang rukun nikah dan berbagai penjelasan, dari pengertian, syarat, hingga hukum yang mendasarinya. Semoga informasi ini bermanfaat, dan semakin meneguhkan hati seorang pembaca untuk melengkapi sebagian dari imannya, aamiin.

Sekian dari saya, semoga sampai bertemu di artikel selanjutnya. Terimakasih. Salam.

8 thoughts on “Rukun Nikah: Pengertian, Syarat dan Hukumnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *