Nikah Misyar
Nikah Misyar

Nikah Misyar: Pendapat Fuqaha, Fatwa MUI dan Tata Caranya

Diposting pada

Infokua.com Apa Pengertian Nikah Misyar? Nikah Misyar adalah pernikahan yang mempelai wanitanya tidak dapat akan haknya sebagai seorang istri secara penuh.

Misalnya seperti yang telah diatur dalam akad nikah, sehingga seorang perempuan yang dinikahi tersebut tak mendapatkan tempat tinggal, nafkah dan haknya untuk hidup bersama.

Dalam pengertian yang sama, dalam hal ini, nikah misyar berlangsung dengan rukun rukun pernikahan yang sama. Hanya saja istri tak mengambil sebagian haknya.

Misalnya seperti yang sudah dijelaskan di atas, seorang istri tidak mendapatkan nafkah atau suami tidak tinggal bersamanya secara permanen. Dalam pernikahan ini juga keabsahan pernikahan perlu diteliti kembali.

Pernikahan ini ada yang menyebutkan bahwa pernikahan yang terjadi adalah pernikahan yang dilakukan seorang suami beristri yang tanpa mendapatkan izin untuk menikah lagi atau poligami dari istri pertamanya.

Pada prinsipnya pun, pernikahan misyar ini seorang pria yang menikahi wanita, meski ia menjadi seorang suami tetapi ia tidak berkewajiban melakukan kewajibannya secara lahir.

Misalnya saja, seperti memenuhi kebutuhan keseharian istrinya. Jadi, suami tersebut hanyalah melakukan pemenuhan kewajiban batin seorang istri.

Jadi dalam hal ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan poligami. Namun istri baru yang dinikahi rela sebagian haknya tidak diberikan suaminya.

Jadi, pernikahan ini pada banyak kesimpulan disebutkan pernikahan yang istri barunya mendahulukan hak madunya dari pada hak untuk dirinya sendiri.

Pendapat Para Fuqaha Tentang Nikah Misyar

Nikah Misyar
Nikah Misyar

Lalu apa saja pendapat para fuqaha tentang nikah Misyar? Para Fuqaha sebenarnya telah sepakat, bahwasannya nafkah istri wajib. Nafkah diberikan suami yang terdiri dari sandang, pangan, dan papan.

Para fuqaha juga sepakat tentang besar kecilnya nafkah tergantung kepada keadaan kedua belah pihak. Namun memang ini tidak berlaku pada nikah misyar.

Nikah Misyar disebut juga sebagai bentuk pernikahan yang mempelai perempuan tidak menuntut haknya dalam pernikahan, seperti nafkah lahir.

Sebab, perempuan yang telah dinikahi tersebut telah mencabut haknya terhadap laki laki yang mau menikahinya dan hanya menununtut hak batin.

Dalam penjelasan ini nikah misyar mengedepankan aspek kesenangan dari sisi biologis tanpa mengedepankan aspek sakinah, mawaddah, warahmah, sebagai salah satu pondasi motivasi menikah.

Dalam sejarahnya memang, pernikahan ini dilakukan para musafir dan wanita wanita yang telah lanjut usia atau disebut tua namun belum kunjung menikah.

Mereka-mereka biasanya telah kehilangan harapan untuk bisa melakukan pernikahan secara normal. Sehingga, pernikahan ini juga dilakukan untuk menjaga diri dari kerusakan.

Fatwa MUI Tentang Nikah Misyar

Nikah Misyar
Nikah Misyar

Tak hanya perihal apa saja fatwa MUI tentang Nikah Misyar, namun memang terkait aturan dan hukum pernikahan Misyar dalam Islam para ulama banyak menyatakan bahwasannya pernikahannya tetap akan sah asal syarat dan rukun nikah terpenuhi.

Bahkan beberapa ulama menyatakan bahwasannya pernikahan ini diketahui dan diizinkan salah satu pasangan, dengan kaidah kaidah yang sesuai aturan agama, dalam hal ini syarat nikah dalam Islam dan rukunya sesuai syariat.

Berikut ini beberapa kisah yang dikutip dari banyak informasi tentang terjadinya pernikahan Misyar. Bahwasannya ada seorang istri yang masing masing memiliki satu suami tidak dapat jatah gilir yang sama.

Dan di antara wanita itu ada yang hanya dapat jatah gilir bersama suaminya di siang hari (nahariyat), dari kata nahar yang memiliki arti siang.

Jadi, disebutlah ia wanita siang, sebab, wanita itu hanya didatangi suaminya pada siang hari. Sebagian ulama membecin pernikahan ini, namun jika pernikahan syarat dan rukun terpenuhi maka sah.

Seperti yang telah diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dari jalur Manshur, : عن الحسن، وعطاء، أنهما كانا «لا يريان بأسا بتزويج النهاريات»

Dari Hasan Al-Bashri dan Atha bin Abi Rabah, bahwa kedua ulama ini berpendapat bolehnya pernikahan wanita nahariyat. (Mushannaf Ibn Abi Syaibah, 16559).

Baca Juga: Nikah Syighar: Pengertian, Hukum, Dampak Negatif & Hikmah

Selain itu, Ibnu Abi Syaibah juga membawakan riwayat dari Amir as-Sya’bi,

عن عامر الشعبي أنه سئل عن الرجل يكون له امرأة فيتزوج المرأة ، فيشترط لهذه يوماً ولهذه يومين ؟ قال : لا بأس به

Dari Amir as-Sya’bi bahwa beliau ditanya tentang seorang lelaki yang sudah memiliki istri, kemudian dia berpoligami dengan menikahi wanita lain.

Kemudian dibuat kesepakatan, untuk istri kedua gilir sehari dan istri pertama dua hari. As-Sya’bi memfatwakan, ”Tidak masalah.” (Mushannaf Ibn Abi Syaibah, 16566).

Diketahui beberapa penjelasan di atas juga kerap menjadi panduan para ulama untuk menjawab beberapa pertanyaan tentang nikah misyar.

Sehingga pada kesimpulannya, pernikahan tersebut menurut para ulama tetap sah jika syarat dan rukun nikah terpenuhi.

Dan beberapa ulama mensyaratkan pernikahan tersebut dapat dilakukan yakni mendapatkan izin dari salah satu pasangan.

Perbedaan Dengan Nikah Hibah?

Ada yang juga bertanya, dalam sela sela pertanyaan tentang nikah misyar, seperti bagaimana dengan nikah hibah? Yakni seorang pemudi mengatakan kepada seorang pemuda.

Aku menghibahkan diriku padamu, atau aku hibahkan diriku untukmu.” Mereka mengatakan bahwa pernikahan adalah ijab dan kabul dan bahwa pada zaman Nabi SAW dan para sahabat tidak ada kertas sertifikat nikah (akta nikah).

Yang ada hanyalah ijab dan kabul. Maka, apakah nikah ini nikah hibah sah atau tidaknya? Dijawab pertanyaan dan cerita tersebut.

Bahwasannya, nikah hibah adalah nikah batil. Para ulama pun bersepakat bahwasannya pernikahan wanita menghibahkan dirinya adalah pernikahan yang tidak diperbolehkan.

Nikah tidak sah dengan lafazh demikian, karena ini salah satu bentuk zina. Telah dikemuykakan sebelumnya pembicaraan rukun rukun nikah, yakni yang harus dilakukan adalah ijab dan kabul.

Serta syarat syarat pernikahan seperti mahar, pemberitahuan izin menikah, saksi dan wali. Itu harus terpenuhi dalam syarat dan rukun nikah di atas. Sehingga pernikahannya dinyatakan sah.

Tata Cara Nikah Misyar

Pernikahan yang dilakukan ini juga biasanya dilakukan para musafir dan wanita yang tua tetapi belum menikah, dan ia kehilangan harapannya untuk melakukan pernikahan seperti pernikahan normal pada umumnya.

Pernikahan ini biasanya dilakukan para pedagang, penuntut ilmu, tentarada yang tengah berada di negeri asing, pernikahan dilakukan dengan tujuan menjaga dirinya dari kerusakan.

Lalu bagaimana cara nikah misyar. Adapun tata caranya tetap terpenuhinya rukun dan syara menikah. Pernikahan secara syar’i bagi seorang muslim.

Maka meski Msiyar, pernikahan tetap diumumkan, Jadi, jika pernikahannya disembunyikan, pernikahannya tidaklah sah. Dan disebut dengan zina. (Baca juga: Apakah Dosa Zina Bisa Diampuni, Ini Penjelasannya?).

Jadi, pernikahan yang dilakukan adalah dengan memenuhi rukun nikah seperti akad, izin wali dan terdapat dua orang saksi dan mahar atau mas kawin.

Sementara syarat yang harus terpenuhi seperti:

  • Ada calon mempelai pengantin laki laki
  • Ada calon mempelai pengantin perempuan
  • Adanya wali nikah
  • Ada dua orang saksi laki laki
  • Ada ijab dan qabul
  • Adanya mahar.

Dalam contoh kasus cara melakukan pernikahan misyar ini sebenarnya sudah terjadi sejak masa lalu. Jadi tidak terjadi hanya saat ini saja.

Kesimpulannya:

Terakhir, dari beberapa penjelasan di atas kita dapat menyimpulkan, bahwasannya pernikahan atau nikah Misyar dalam Islam sah jika rukun dan syarat nikah dalam Islam terpenuhi.

Kendati demikian jika ingin melakukan pernikahan ini sebaiknya dilakukan terlebih dahulu pertimbangan antara dampak yang akan terjadi setelahnya. Dalam hal ini baik dan buruknya pernikahan yang akan berlangsung.

Jadi pertimbangkan mudharatnya lebih banyak ke mana. Ada banyak aspek yang harus dipertimbangkan, dan lihat lagi motivasi menikah itu apa saja? Jadi hal hal yang harus diperkuat dan dipertimbangkan adalah:

  1. Niat menikah untuk apa?
  2. Setelah menikah apakah mampu melaksanakan tanggung jawab
  3. Memahami hak dan kewajiban suami istri
  4. Apakah pernikahan yang dilakukan akan ada yang tersakiti?
  5. Tidak terjadi selisih paham antar keluarga yang menikah
  6. Anak yang dihasilkan dalam pernikahan bagaimana statusnya?
  7. Hak Istri Atas Suami

Nah demikian beberapa hal yang harus kita pahami ketika akan melangsungkan pernikahan seperti yang dijelaskan di atas.

Terutama dalam hal hukum ketika akan melakukan nikah misyar. Bagaimana pandangan Islam? Dan adakah dalil dalil quran yang menguatkan pernikahan tersebut.

Sebaiknya memang untuk ditelaah terlebih dahulu hukum pernikahan tersebut. Sehingga tak ada hal hal yang menjadi beban setelah pernikahan dijalankan.

Sekian yang bisa disampaikan, semoga bermanfaat. Terimakasih. Salam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *