Macam Macam Rujuk
Macam Macam Rujuk

Macam Macam Rujuk, Ini Pengertian dan Hukumnya

Diposting pada

Infokua.com – Ada banyak yang bertanya tentang apa saja Macam Macam Rujuk? Tak hanya dari jenisnya saja. Tetapi juga tentang penjelasan, dari pengertian dan hukum.

Misalkannya saja, beberapa hal yang kerap ditanyakan seputar rujuk, di antaranya adalah:

  1. Pengertian rujuk? Dalam hal ini apa yang dimaksud dengan rujuk?
  2. Hukum rujuk? Bagaimana tentang hukum rujuk, dari hukum istri menolak rujuk suami dan penjelasan tentang hukum lainnya.
  3. Dalil Rujuk? Dalil dalam hadist dan Al Quran apa saja yang menjelaskan tentang rujuk? Dan apa saja ayat tentang rujuk?
  4. Hikmah Rujuk? Apa saja hikmah rujuk bagi sepasang suami istri yang tengah dalam keadaan talak.

Nah, beberapa pertanyaan ini sebenarnya juga selaras dengan penjelasan dalam artikel sebelumnya, yakni terkait tentang macam macam talak.

Karena dalam hal ini juga kita tak boleh menyampingkan beberapa pertanyaan seperti bagaimana cara rujuk setelah talak 3, dan cara rujuk talak 1, dan risalah talak lainnya.

Untuk itu, rangkuman rangkuman pertanyaan tersebut penulis coba menjadi satu makalah tentang rujuk, dalam hal ini dimulai dari penjelasan macam macam rujuk yang bisa kita ketahui.

Macam Macam Rujuk dan Ketentuannya

Macam Macam Rujuk
Macam Macam Rujuk

Jadi, yang bisa kita pahami dalam makalah tentang rujuk ini kita bisa memulainya dengan memahami apa saja macam macam rujuk dan ketentuannya.

Misalkannya saja, bagaimana jika seorang suami telah menjatuhkan talak pada istrinya? Apakah suami dapat meminta rujuk kembali?

Nah dalam hal ini tentuynya, suami dapat meminta rujuk kembali dengan beberapa ketentuan-ketentuan yang berlaku sesuai syariat Islam.

Nah apa saja ketentuan tersebut, misalkannya saja ini dijelaskan dalam beberapa hal berikut ini:

  1. Rujuk untuk talak 1 dan 2 (Talak raj’iy), yaitu rujuk yang dilakukan oleh suami yang telah menjatuhkan talak 1 (satu).
    • Suami istri ini dapat rujuk kembali dengan syarat-syarat atau cara rujuk yang sesuai dengan syariat Islam, seperti dengan ucapan atau perbuatan.
  2. Rujuk untuk talak 3 (Talak ba’in). Hukum rujuk talak ba’in yaitu sama dengan melakukan pernikahan baru, seperti adanya mahar, wali dan persetujuan.
    • Menurut jumhur berpendapat bahwa untuk pernikahan ini tidak berlaku masa iddahnya.
  3. Talak tebus (ba’in sugra), yaitu talak dimana suami tidak dapat meminta kembali sang wanita untuk rujuk kepadanya.
    • Tetapi suami dapat menikah kembali dengan sang wanita, setelah wanita dalam masa iddah atau atau selesai dengan masa iddahnya sendiri.

Hukum Rujuk

Dalam hal ini, macam macam rujuk tentu ada hukum yang bisa kita pelajari. Hukum Rujuk menyebutkan diperbolehkan atau jaiz.

Hukum rujuk berkembang menjadi berbeda, dalam hal ini tergantung dair kondisi suami dan istri yang tengah dalam keadaan perceraian.

Dan perubahan pada hukum rujuk dapat menjadi beberapa hal berikut, di antaranya adalah:

  1. Hukum Rujuk Wajib. Jadi, terkhusus bagi laki-laki yang beristri lebih dari satu dan apabila pernyataan cerai (talak) itu dijatuhkan sebelum gilirannya disempurnakan.
    • Maksud hukum rujuk wajib adalah, bagi seorang suami yang harus menyelesaikan hak-hak istri-istrinya atau hak istri atas suami sebelum ia menceraikannya. Apabila belum terlaksana, maka ia wajib merujuk kembali isrinya.
  2. Hukum Rujuk Sunnah apabila rujuk lebih bermanfaat dibanding meneruskan perceraian.
  3. Hukum Rujuk Makruh apabila dimungkinkan dengan meneruskan perceraian lebih bermanfaat dibanding mereka rujuk kembali.
  4. Hukum Rujuk Haram apabila adanya rujuk si istri semakin merasa menderita.

Syarat & Cara Sah Rujuk Suami Istri Dilihat Dari Macam Macam Jenisnya

Maka ada syarat dan cara sah rujuk yang bisa dilakukan seorang suami istri jika ditinjau dari macam macam jenis rujuknya. Dalam hal ini, meski dalam keadaan talak 1 dan 2. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan.

Dan dibawah ini adalah merupakan tata cara agar sahnya rujuk sepasang suami istri dalam keadaan talak 1 dan 2, di antaranya adalah:

  1. Rujuk hanya dapat dilakukan jika suami hanya menalak 1 atau 2 sang istri saja. Baik talak langsung dari suami atau dari hakim.
    • Tetapi, apabila suami telah melakukan talak ke 3 kepada istri, maka rujuk tidak dapat dilakukan kembali.
  2. Rujuk dapat terjadi dalam keadaan suami telah menggauli istri, apabila istri belum pernah digauli oleh suami, maka tidak ada rujuk. Demikian menurut kesepakatan agama.
  3. Rujuk dapat dilakukan selama masa ‘iddah. Apabila telah melewati masa ‘iddah menurut kesepakatan ulama fikih, maka tidak ada rujuk.
    • Tidak disyaratkan keridhaan wanita dalam rujuk.
    • Bila masih dalam masa ‘iddah tetapi belum ada kata rujuk, maka sang wanita bebas memilih yang lain.
    • Bila wanita tersebut ingin menerima kembali mantan suaminya, maka diwajibkan melakukan akad nikah baru.

Cara Untuk Rujuk

Cara untuk rujuk dapat dilakukan dengan cara menyampaikan niat sang suami terhadap istrinya melalui ucapan dan perbuatan.

Rujuk yang dilakukan dengan ucapan disahkan secara ijma’ oleh para ulama dan dilakukan dengan lafazh (ucapan) yang jelas.

Contoh kalimatnya seperti “Saya rujuk kembali kepadamu” atau dengan kinayah (sindiran), yaitu “ sekarang, engkau sudah seperti dulu”.

Kedua ucapan tersebut bila diniatkan untuk rujuk, maka akan sah. Tetapi, apabila tidak ada niat yang mengawali dalam ucapan tersebut untuk kembali rujuk, maka tidak akan sah.

Lalu, rujuk dengan perbuatan, yang dimaksudkan disini yaitu menurut para pendapat ulama yaitu dengan melakukan hubungan suami istri atau muqqadimahnya, seperti mencium pasangannya.

Pendapat ini madzhab Malikiyah ini dikuatkan oleh Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyahrahimahullâh dan Syaikh as-Sa’dirahimahullâh.

Apabila disertai dengan saksi, maka itu lebih baik, apalagi jika perceraiannya dilakukan di hadapan orang lain, atau sudah diketahui khalayak ramai.

Macam Macam Iddah

Untuk mendapatkan beberapa penjelasan di atas, kita juga bisa memepelajari hal lainnya, yakni tentang macam macam iddah.

Karena beberapa hal tentang rujuk, dan tata caranya juga harus dibahas ke runtutuan persoalannya, yakni iddah dan talak. Nah kita bahas terlebih dahulu tentang masa iddah.

Jadi, yang bisa kita pahami adalah di dalam talak terdapat masa iddah istri.

Yang dimaksud masa iddah menurut syara’ adalah masa menunggu yang ditetapkan syariat Islam bagi wanita yang telah dijatuhkan talak oleh suaminya ataupun perceraian akibat suaminya meninggal dunia.

Untuk masa iddah ini sebenarnya hanya didapatkan atua berlaku pada wanita yang telah digauli suaminya. Sedangkan wanita yang belum pernah digauli suaminya maka tidak ada ada (tidak berlaku) iddah baginya.

Dan bagi seorang wanita yang sedang dalam masa iddah disebut dengan Mu’taadah. Sementara, Iddah secara umum di dibagi menjadi dua macam. Di antaranya adalah:

  • Mutawaffa ‘anha atau yang disebut dengan wanita yang ditinggal mati suaminya.
  • dan Ghair Mutawaffa ‘anha adalah wanita yang diceraikan bukan karena ditinggal mati oleh suaminya.

Sementara untuk macam macam Iddah ini dibagi menjadi lima macam, di antaranya adalah:

1. Istri yang ditinggal meninggal dunia oleh suaminya dan dalam keadaan tidak hamil.

Dalam hal ini, maka masa iddahnya yaitu empat bulan sepuluh hari (4 bulan 10 hari).  Ketentuan ini berlaku baik bagi istri yang pernah dicampuri atau tidak dalam keadaan belum haid, sedang haid, maupun setelah haid.

Allah Swt berfirman:

وَالَّذِينَيُتَوَفَّوْنَمِنْكُمْوَيَذَرُونَأَزْوَاجًايَتَرَبَّصْنَبِأَنْفُسِهِنَّأَرْبَعَةَأَشْهُرٍوَعَشْرًا

Artinya: ” Dan orang orang yang meninggal dunia diantara kamu serta meninggalkan istri-istri hendaklah mereka (istri-istri) menunggu empat bulan sepuluh hari…” (QS Al-Baqarah : 234)

2. Istri yang ditinggal mennggal dunia oleh suaminya dalam keadaan sedang hamil.

Dalam hal ini, maka masa iddahnya adalah sampai melahirkan, walau waktu atau masa hamilnya kurang dari empat bulan sepuluh hari.

3. Istri ditalak suaminya dan tidak dalam keadaan masa haid.

Dalam hal ini, maka masa iddahnya adalah tiga kali suci.

Allah swt berfirman:

وَالْمُطَلَّقَاتُيَتَرَبَّصْنَبِأَنْفُسِهِنَّثَلَاثَةَقُرُوءٍ

Artinya: “Dan para istri yang diceraikan (wajib) menahan diri mereka (menunggu) tiga kali quru’.” (QS Al-Baqarah :228).

4. Istri yang ditalak suaminya dan dia dalam keadaan hamil.

Dalam hal ini, maka masa iddahnya sampai melahirkan.

Allah Swt berfirman:

وَأُولَاتُالْأَحْمَالِأَجَلُهُنَّأَنْيَضَعْنَحَمْلَهُنَّ

Artinya: ”Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya.” (QS At-Talaq : 4)

5. Istri yang ditalak suaminya padahal dia belum pernah mengalami haid atau dalam keadaan sudah tidak haid lagi (menopause).

Dalam hal ini, maka masa iddahnya adalah tiga bulan.

Allah Swt berfirman:

وَاللَّائِييَئِسْنَمِنَالْمَحِيضِمِنْنِسَائِكُمْإِنِارْتَبْتُمْفَعِدَّتُهُنَّثَلَاثَةُأَشْهُرٍوَاللَّائِيلَمْيَحِضْنَ

Artinya: “Perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (menopause) diantara istri-istrimu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya) maka iddahnya adalah tiga bulan, dan begitu pula perempuan-perempuan yang tidak haid.” (QS At-Talaq : 4).

Macam Macam Talak

Macam Macam Talak
Ilustrasi Infokua.com – Macam Macam Talak | Sumber Gambar Pixabay.com

Selanjutnya yang bisa kita juga pelajari terkait hal ini adalah tentang macam macam talak. Apa saja sih yang bisa dipelajari dari macam macam talak, di antarnaya adalah:

  1. macam macam talak bain
  2. macam macam talak dan cara rujuk
  3. macam macam talak
  4. jelaskan macam macam talak ditinjau dari cara menjatuhkan
  5. macam macam talak dan masa iddah

Dalam hal ini, yang dimaksud dengan Pengertian Talak menurut bahasa arab memiliki makna yaitu melepaskan ikatan. Sementara, pengertian Talak menurut istilah hukum Islam memiliki arti sebagai berikut:

  1. Menghilangkan ikatan perkawinan atau mengurangi keterikatannya dengan ungkapan atau ucapan tertentu,
  2. Melepaskan ikatan pernikahan dan mengakhiri sebuah hubungan suami istri antara kedua belah pihak, dan
  3. Melepaskan ikatan akad pernikahan dengan ucapan talak atau yang sepadan dengan itu.

Selain itu, pengertian talak dalam hukum Islam sebenarnya sudah sangat jelas dan telah diatur pada Bab XVI pasal 117 yaitu:

“Talak adalah ikrar suami dihadapan sidang Pengadilan Agama yang yang menjadinsalah satu sebab putusnya perkawinan”.

Macam Macam Talak dan Ketentuannya

Tentunya ada beberapa hal yang bisa dipelajari, ketentuan ketentuan talak, sehingga ada masa iddah, dan akhirnya keitka rujuk bagaimana? Macam macam rujuk yang digunakan dibagian mana saja.

Untuk macam macam talak ini ketentuannya di antaranya adalah dengan melihat dari beberapa peninjauan, seperti di antaranya adalah:

A. Macam-macam talak ditinjau dari segi waktu dijatuhkannya:

Talak sunny atau talak yang dijatuhkan oleh sang suami pada istri sesuai dengan syariat atau tuntunan sunah. Talak sunny ini harus memenuhi empat syarat, seperti:

  1. Istri sudah pernah digauli.
  2. Istri melakukan iddah suci segera setelah ditalak (suci setelah haid).
  3. Jatuhnya talak pada saat istri suci dari hadi
  4. Selama masa suci sang istri, ketika suami menjatuhkan talak tersebut, suami tidak pernah menggauli istri.

Selanjutnya adalah Talak bid’iy. Pengertian Talak bid’iy yaitu talak yang dijatuhkan suami kepada istri yang tidak sesuai aturan atau tuntunan sunnah. Syarat Talak Bid’id adalah sebagai berikut:

  1. Suami menjatuhkan talak pada istri yang pernah digauli diawal haid, tengah haid, atau sedang nifas.
  2. Suami menjatuhkan talak pada istri yang sedang mengalami kondisi hamil dari zina.
  3. Suami menjatuhkan talak pada istri di akhir masa suci kemudian datangg haid sebelum berakhir ucapan talaknya.
  4. Suami menjatuhkan talak pada istri dimasa suci tetapi telah digauli.

Terakhir adalah Talak la sunny wa la bid’iy. Talak Ia sunny wa la bid’iy atau talak yang dijatuhkan suami pada istri yang tidak termasuk kategori talak sunny atau talak bid’iy, seperti:

  1. Suami menjatuhkan talak terhadap istri yang belum pernah digauli.
  2. Suami menjatuhkan talak pada istri yang telah pernah digauli namun belum pernah berhaid.
  3. Suami menjatuhkan talak pada istri yang sedang hamil dalam nikah yang sah.
  4. Suami menjatuhkan talak pada istri karena suami meminta tebusan ketika istri sedang hamil.
B. Macam-macam talak ditinjau dari segi cara menjatuhkan talaknya:

Ada empat macam talak yang ditinjauh dari segi bagaimana cara menjatuhkan talak. Di antaranya macam macam talak tersebut adalah:

  • a) Suami menjatuhkan talak dengan ucapan atau perkataan.
  • b) Suami menjatuhkan talak dengan cara tertulis melalui tulisan, seperti surat.
  • c) Suami menjatuhkan talak dengan cara isyarat yang membuat suami tidak bisa berbicara dan menulisnya.
  • d) Suami menjatuhkan talak dengan cara perwakilan orang lain.
C. Macam-macam talak ditinjau dari segi jelas atau tidaknya

Selanjutnya ada beberapa macam jenis talak yang ditinjau dari segi jelas atau tidaknya talak tersebut, di antaranya adalah:

  • a) Talak sharih, yaitu talak yang diberikan suami kepada istrinya dengan kata-kata yang jelas dan tegas untuk menyatakan cerai, misalkan seperti ucapan “Sekarang, engkau saya jatuhkan talak”.
  • b) Talak kinayah, yaitu talak yang diberikan suami pada istrinya bersifat seperti kata-kata sindiran, misalkan “Engkau sekarang terlarang untukku”.
D. Macam-macam talak ditinjau dari segi susunan kata (sighat) yang digunakan dalam talak

Selanjutnya ada dua macam jenis talak yang ditinjau dari segi susunan kata atau yang disebut dengan sighat yang digunakan dalam talak, di antaranya yaitu:

  • a) Talak tajiz atau talak langsung, yaitu talak yang menggunakan susunan kata yang berlangsung.
  • b) Talak ta’liq atau talak bergantung, yaitu talak yang berlakunya oleh suami digantungkan kepada sesuatu syara atau waktu.
E. Talak ditinjau dari segi kemungkinan suami merujuk kembali istrinya atau tidak

Selanjutnya dari segi kemungkinan suami merujuk kembali istrinya atau tidak ada beberapa macam yang bisa kita ketahui, di antaranya adalah:

  • a) Talak raj’i yaitu talak yang masih memberi hak atau kesempatan pada suami untuk merujuk bekas istrinya dalam masa iddah istri.
  • b) Talak ba’in yaitu talak apabila seorang suami ingin kembali rujuk kepada istrinya, maka harus ada akad nikah baru lengkap dengan disertai saksi dan mahar. Terdapat dua macam talak ba’in, anatar lain:
    • 1) Talak ba’in shughra, talak yang tidak memberi kesepatan pada suami untuk merujuk kembali istrinya walaupun suami belum menjatuhkan talak sampai talak talak ketiga. Hal tersebut terjadi, mungkin karena salah satu dari suami istri tersebut telah melakukan pernikahan kembali dengan pernikahan baru dalam keadaan talak tersisa yang belum dijatuhkan.
    • 2) Talak ba’in kubra, yaitu talak yang tidak memberi kesempatan pada suami untuk merujuk kembali si istri karena sudah talak ketiga. Hal ini membuat mantan suami tidak halal untuk melakukan pernikahan kembali pada mantan istrinya, kecuali mantan istri telah melakukan pernikahan dan melakukan hubungan suami istri dengan suami barunya, lalu mantan istri tersebut diceraikan dan selesai masa iddah nya dari pria lain, maka sang mantan suami pertama dapat menikahi kembali mantan istrinya.
F. Macam-macam talak ditinjau dari segi kondisi suami yang menjatuhkan talak

Selanjutnya jika dilihat dan ditinjau dari segi kondisi suami yang menjatuhkan talak ada beberapa macam jenis talak yang bisa kita ketahui, yaitu:

Baca Juga: Apakah Dosa Zina Bisa Diampuni, Ini Penjelasannya?

a) Thalaqul mukhrah,

Thalaqul Mukhrah atau Talak Mukhrah adalah suami yang menjatuhkan talak pada istrinya karena dipaksa atau terpaksa.

b) Thalaqul sakran

Thalaqul sakran atau talak sakran adalah talak suami yang dalam kondisi sedang mabuk atau tidak sadarkan diri.

Munurut fuqaha, talak seperti ini merupakan talak yang sah, tetapi menurut para ulama, talak yang dijatuhkan seorang suami yang sedang mabuk dianggap tidak sah.

Hal ini dikarenakan orang yang mabung tidak bisa berpikir jernih dan tidak sadar dengan apa yang telah diucapkan.

c) Thalaqul ghadlban

Thalaqul ghadlban adalah talak yang dijatuhkan suami saat keadaan marah atau dipenuhi emosi.

Hal ini dianggap sah apabila suami memahami apa yang ia ucapkan, tetapi tidak akan sah talaknya apapbila suami tidak merasa dengan apa yang diucapkannya.

d) Thalaqul hazil

Thalaqul hazil adalah talaknya suami yang hanya bermain-main dengan talaknya.

e) Thalaqul mukhti

Thalaqul mukhti yaitu talak yang dijatuhkan suami akibat kekeliruan atau keterlanjuran ucapannya.

Menurut fuqaha Hanafiyah talak seperti ini dianggap sah berdasarkan peradilan, tetapi menurut agama talak ini tidak jatu atau tidak sah.

Baca Juga: Pernikahan Dini di Indonesia, Ini Penjelasannya

f) Thalaqul saahi

Pengertian Thalaqul saahi adalah talak yang dijatuhkan suami dalam keadaan lupa atau tidak menyadarinya.

g) Thalaqul madhusy

Thalaqul madhusy yaitu talak yang dijatuhkan suami dalam keadaan bingung, ragu, atau bimbang. Hal ini mungkin terjadi apabila suami dalam keadaan kondisi sakit.

h) Thalaqul na’im

Thalaqul na’im yaitu talak yang dijatuhkan suami dalam keadaan tidur. Talak ini dianggap tidak sah atau tidak jatuh, karena tidur merupakan kondisi tidak sadar dan tidak dapat berpikir dengan jernih yang dialami makhluk hidup.

i) Thalaqul majnun

Thalaqul majnun yaitu talak yang dijatuhkan suami yang mengalami kondisi gangguan sakit jiwa atau gila.

Seperti talak na’im, talak ini tidak sah atau tidak jatuh, karena seseorang yang mengalami kondisi gangguan sakit jiwa atau gila tidak sadar dan tidak dapat berpikir dengan jernih terhadap apa yang diucapkannya.

j) Thalaqul maridz

Thalaqul maridz yaitu talak yang dijatuhkan suami dalam kondisi sedang sakit keras atau sedang mendekati ajal dalam keadaan yang sepenuhnya sadar dengan maksud untuk mengahalngi istrinya mendapatkan warisannya.

Menurut Islam, apabila istri belum pernah digauli oleh suami, maka istri tersebut berhak mendapat separuh mahar dan berhak menajdi ahli waris.

Sedangkan apabila istri tersebut telah digauli suami, maka istri tersebut berhak mendapatkan seluruh harta suami dan menjadi ahli waris sahnya.

Ketentuan Macam Macam Suami Istri Untuk Rujuk Yang Harus Dipahami

Macam Macam Rujuk
Macam Macam Rujuk

Ada beberapa ketentuan yang bisa kita pelajari dalam hal ini, di antaranya adalah tentang rukun rujuk itu sendiri. Adapun rujuk rujuk misalnya, seperti:

Pertama, Istri, keadaannya disyaratkan sebagai berikut: istri telah dicampuri atau disetubuhi (ba’da dukhul), dan seorang istri yang akan dirujuknya ditalak dengan talak raj’i.

Talak raj’i adalah talak dimana seorang suami dapat meminta istrinya kembali dan syarat selanjutnya adalah istri tersebut masih dalam masa menunggu (iddah).

Selanjutnya, Suami, disyaratkan karena kemauannya sendiri bukan karena dipaksa, Islam dan sehat akal. Ketiga, adanya saksi.

Keempat, lanjutannya adalah adanya sighat atau lafadz atau ucapan rujuk yang dapat dimengerti dan tidak ambigu. yaitu ada dua cara:

  1. Secara terang-terangan, misalnya: “Saya rujuk kepadamu”.
  2. Secara sindiran, seperti kata suami: “Aku ingin tidur lagi denganmu”. Perkataan ini disyaratkan dengan kalimat tunai, dalam arti, tidak digantungkan dengan sesuatu, misalnya saya rujuk kepadamu jika bapakmu mu. Rujuk dengan kalimat seperti di atas hukumnya tidak sah.

Ketentuan Rujuk, Ucapan, Perbuatan dan Batasan

Maka dari itu, ada beberapa ketentuan rujuk yang juga bisa dipahami dalam hal ini. Di antaranya adalah:”

  1. Rujuk hanya boleh dilakukan apabila akan membawa kemaslahatan atau kebaikan bagi istri dan anak-anak. Rujuk hanya dapat dilakukan jika perceraian baru terjadi satu atau dua kali.
  2. Rujuk hanya dapat dilakukan sebelum masa menunggu atau masa iddah habis.

Adapun tata cara rujuk dapat dilakukan dengan beberapa cara, seperti:

1. Ucapan: Rujuk dengan ucapan adalah dengan ucapan-ucapan yang menunjukkan makna rujuk.Seperti ucapan suami kepada istrinya, ” Aku merujuk‟mu” atau ”Aku kembali kepadamu” dan yang semisalnya.[2]

2. Perbuatan:  Rujuk dapat dilakukan dengan perbuatan seperti; suami menyentuh atau mencium isterinya dengan nafsu atau suami mensetubuhi istrinya.

Selain itu, ada beberapa Batasan suami istri untuk rujuk, misalnya saja, seperti:

Apabila suami sudah menjatuhkan/menceraikan istrinya sebanyak tiga kali atau disebut talak 3, maka ia tak diperbolehkan merujuk istrinya kembali kecuali setelah memenuhi 5 syarat, yakni:

    1. Telah berakhir masa menunggu (iddah) sang perempuan dari suami yang mentalaknya.
    2. Istri telah dinikahi laki-laki lain dengan perkawinan yang sah.
    3. Suami yang lain (Suami kedua) telah mencampurinya.
    4. Pernikahannya dengan suami kedua telah rusak atau suami keduanya telah menjatuhkan talak Ba-in kepadanya.
    5. Telah habisnya masa iddah atau masa menunggu bagi sang istri dari suami yang kedua.

Baca Juga: Pacaran Dalam Islam, Ini Syarat dan Hukumnya

Nah itulah beberapa hal yang bisa diketahui tentang macam macam rujuk, pengertian, hukum, hikmah dan tata caranya hingga ke rukun rujuk yang bisa dipelajari.

Semoga informasi ini dapat bermanfaat sebagai media pembelajaran atau makalah tentang rujuk. Sekian yang bisa disampaikan, semoga bermanfaat. Terimakasih. Salam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *