Larangan Dalam Ta'aruf
Ilustrasi Larangan Dalam Ta'aruf - Infokua.com dan Pixabay.com

Larangan Dalam Ta’aruf? Ini Hal Yang Harus Kamu Perhatikan

Diposting pada

Infokua.com – Apa saja yang menjadi Larangan Dalam Ta’aruf? Mungkin itu yang sedang kita cari saat ini ya? Termasuk pertanyan seperti apakah ta’aruf boleh berkomunikasi?

Sebelum lebih jauh membahas tentang apa saja yang menjadi larangan dalam taaruf? Sudah kah kita mengetahui, ta’aruf itu apa?

Karena memang ada banyak sekali pertanyaan tentang taaruf, begitu juga yang sedang berproses, ada banyak pertanyaan saat taaruf, bukan hanya sekedar larangan, tetapi juga dari ta’aruf syar’i sampai batas waktu ta’aruf.

Namun pada umumnya tak sedikit yang mencoba menyimpulkan seperti ini, bahwasannya tujuan taaruf adalah salah satu proses sebelum melangsungkan pernikahan dan salah satu cara mendapatkan pasangan menurut Agama Islam.

Atau identik lain menyebutkan taaruf adalah proses pencarian pasangan hidup tanpa pacaran. Dan jika ditelisik dari penjelasan Wikipedia, taaruf artinya kegiatan berkunjung ke rumah seseorang untuk berkenalan.

Dalam hal ini, dimaksudkan adalah berkenalan dengan penghuni rumah yang dituju. Dalam arti lain adalah menjadi salah satu cara untuk mengenal dua keluarga yang akan menjodohkan salah satu anggota keluarganya.

Jadi, tak ada salahnya, taaruf diartikan sebagai sesuatu cara dalam mengenalkan dirinya, mengenal dengan baik maupun berkenalan dengan orang lain dengan tujuan tujuan tertentu.

Dalam pengertian taaruf dari sisi bahasa, taaruf diartikan dengan luas, karena tak hanya soal perjodohan, tetpai juga persaudaraan dan pertemanan.

Jadi jika dimaknai secara bahasa, pemaknaannya akan luas, tak sekedar dalam lingkup pernikahan. Karena taaruf disebu sebagai salah satu tindakan interaksi yang dilakukan dua orang atau lebih dengan tujuan tujuan tertentu.

Larangan – Larangan Dalam Ta’aruf

Larangan Dalam Ta'aruf
Ilustrasi Larangan Dalam Ta’aruf – Infokua.com dan Pixabay.com

Dan seperti kita mencoba mencari informasinya saat ini apa saja yang menjadi larangan dalam ta’aruf, jadi ini salah satu pertanyaan saat taaruf berlangsung.

Terkadang pertanyaan ini juga terlontar dan dipertanyakan kepada perantara taaruf, seperti ustad, kerabat, murobi, atau lainnya.

Pertanyaan ini memang harus dimaknai mendalam, sama halnya ketika mendapatkan pertanyaan semacam apa itu ta’aruf dan bagaimana caranya?

Karena masyarakat saat ini, umumnya mengenal taaruf sebagai kegiatan pendekatan dalam hubungan asmara yakni jodoh untuk sebuah pernikahan.

Dan taaruf disebut sebut salah satu cara untuk menghindari diri dari zina pacaran. Jadi, pada prosesnya taaruf memang bukan pacaran.

Pada umumnya kita beranggapan, taaruf adalah suatu proses perkenalan yang memiliki motivasi menikah, atau motivasi untuk menyempurnakan agama yaitu dengan melanjutkanya ke jenjang yang lebih serius (pernikahan).

Jadi, taaruf bukan sekedar proses dan keinginan untuk berkenalan saja ataupun mencoba kecocokan mencari pasangan lewat proses taaruf.

Maka ada beberapa larangan dalam taaruf yang perlu kita perhatikan, di antaranya adalah:

1. Taaruf adalah sebutan pacaran dalam Islam

Ini adalah salah satu pernyataan yang salah tentang taaruf. Taaruf bukanlah pacaran dalam Islam dan bukan sebagai pacaran.

Menganggap taaruf sebagai pacaran Islami adalah salah satu larangan dalam ta’aruf.  Tak sedikit yang menyimpulkan demikian, menyatakan taaruf adalah pacaran islami.

Ingat, dalam taaruf tidak ada istilah pacaran. Islam melarang segala perbuatan yang dilakukan orang yang berpacaran, seperti pertemuan pria dan wanita non mahram, berduaan dan pergi bersama.

Selain itu, berkomunikasi tanpa prantara, hingga bermesra-mesraan berdua, berpegangan tangan bahkan berpelukan dan tindakan lainnya yang dilarang dalam agama.

Dalam Firman Allah pun jelas telah disebutkan dalam QS. Al Isra : 32. Dalam firmanya, “Dan janganlah kalian mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji, dan suatu jalan yang buruk.”

2. Tidak menggali informasi dengan lengkap tentang calon pasangan

Tidak detail dalam menggali informasi adalah salah satu hal yang harus mendapatkan perhatian selama proses ta’aruf.

Jadi, taaruf dalam prosesnya adalah menggali informasi sedalam dalamnya tentang calon pasangan yang akan segera menikah.

Jadi ada beberapa pertimbangan dan hal hal yang harus digali, seperti acuan pada point penting yang dijelaskan Rasulullah SAW, yakni tentang poin penting mencari pasangan hidup.

Dalam hal ini seperi yang disampaikan dari Abu Hurairah dalam HR. Al-Bukhari dan Muslim, bahwasannya shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Wanita itu dinikahi karena empat perkara, bisa jadi karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah olehmu wanita yang memiliki agama. Bila tidak, engkau celaka.”

3. Keliru dalam Nadzhar Ketika Taaruf

Nadzhar dalam taaruf disebut juga dengan melihat calon pasangan dan tidak berdua-duaan saat melakukan nadzhar saat mau bertaaruf.

Jadi, pasangan yang taaruf harus sesuai syariat Islam dengan ditemani mahramnya. Dalam hal ini adalah bertemu di tempat dimana yang biasa dikunjungi oleh calon pasangan taaruf namun berada di posisi yang jauh.

Kedua yang bisa dilakukan adalah dengan melihat calon pasangannya secara sewajarnya tanpa ada hawa nafsu. Jadi lihatlah fisik secukupnya, tidak berlebihan dan tidak terpesona ketampanan maupun kecantikannya.

4. Proses Taaruf Terlalu Lama

Larangan dalam taaruf selanjutnya adalah proses yang dilakukan terlalu lama. Jadi proses taaruf tak boleh terlalu lama. Barang siapa yang sudah memantapkan diri untuk taaruf, dialah yang sudah benar benar siap untuk menikah.

Jadi ketika kamu memutuskan taaruf, sebaiknya kamu sudah mantap untuk melakukan pernikahan. Dalam hal ini sesuai saran Rasulullah, barang siapa yang siap untuk menikah dianjurkan untuk segera meminang.

Rasulullah bersabda, “Wahai para pemuda, barang siapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan.

Dan barang siapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa; karena puasa dapat menekan syahwatnya (sebagai tameng).” (HR. Al Bukhari, Muslim, Tirmidzi).

Memang, jika ditelisik dari sisi durasi waktu taaruf, tak ada teori atau dalil yang menjelaskan secara eksplisit. Namun jika menurut islam tentunya proses pernikahan dari masa taaruf adalah lebih cepat lebih baik.

Dengan catatan kedua pasangan sudah merasa cocok satu sama lain, sehingga sudah merasa mantap untuk memilih calon sebagai pasangan hidup nantinya dalam berumah tangga dan tidak dalam keadaan terpaksa.

5. Taaruf Boleh Berkomunikasi Tetapi Tidak Bebas Berkomunikasi

Satu hal yang harus diperhatikan dalam larangan dalam taaruf adalah bahwasannya taaruf tidak membebaskan berkomunikasi antara kedua orang yang sedang dalam proses taaruf.

Biasanya bermula dari bertanya biodata, yang akhirnya justru berlama lama ke persoalan lainnya yang justru melebar tidak sesuai dengan proses yang diyakini.

Yang dikhawatirkan kebebeasan berkomunikasi adalah ada hawa nafsu atau sekedar rindu mendengar suara, lalu ingin bertemu dan lain seterusnya.

Tata cara taaruf menurut ajaran islam

Lalu bagaimana cara melakukan taaruf dalam Islam. Dalam hal ini ada beberapa hal yang bisa kita pelajari di antaranya adalah dari bagaimana membuat proposal taaruf.

Lalu, tentang bagaimana melakukan pertemuan dan mencari pasangan lewat taaruf? Lalu, apa saja yang bisa dilakukan dalam shalat istikharah jodoh.

Dan bagaimana menerima jawaban shalat istikharah jodoh. Serta beberapa hal lain yang menjadi proses dalam taaruf, hingga masuk ke dalam proses khitbah dan proses akad pernikahan.

Lalu apa saja yang bisa dilakukan, pertama buatlah proposal berisi pandangan kamu terhadap kehidupan rumah tangga, dan CV pengalaman, pekerjaan yang pernah kamu lakukan, termasuk jenjang pendidikan yang pernah ditempuh.

Lalu carilah mediator atau disebut murobi atau mahrom yang bisa membantu dalam mencari pasangan. Ketika ada sesuai dengan proposal yang diajukan kedua pihak dipertemukan dalam satu kesempatan.

Lalu sebagian besar ada yang melakukan sholat istikharah untuk mencari petunjuk Allah SWT agar dimantapkan dan tidak mengalami keraguan.

Langsung masuk proses khitbah. Terakhir adalah akad atau pernikahan. Baca juga: Syarat Nikah Dalam Islam dan KUA, Ini Rukun Sahnya.

Manfaat – Manfaat Ta’aruf

Ada beberapa penjelasan juga, selain larangan dalam ta’aruf yang bisa kita ketahui, selain itu adalah yang perlu kita ketahui adalah manfaat manfaat taaruf.

Beberapa manfaat taaruf di antaranya adalah:

  1. Terhindar dari zina
  2. Lebih adil
  3. Lebih efektif

Serta masih ada banyak manfaat yang tentunya bisa didapatkan bagi para pasangan yang sedang memantapkan diri untuk memantaskan diri karena Allah SWT.

Setidaknya jika taaruf yang dilakukan adalah untuk mencari jodoh dalam Islam. Sebaiknya ketika akan melakukan taaruf hati sudah mantap untuk mencari pasangan hidup dan siap sesegera mungkin dalam pernikahan.

Dengan demikian kita juga terhindar dari segala fitnah dunia, semoga langkah dan hati kita tergerak dalam setiap kebaikan. Termasuk dalam hal memperbaiki diri dan meringankan hati untuk kehidupan yang serius dan lebih baik.

Sekian yang bisa disampaikan, semoga menjadi ladang dakwah dan kebaikan antar sesama. Terimakasih. Salam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *