Hukum Suami Menelantarkan Anak Istri
Ilustrasi - Hukum Suami Menelantarkan Anak Istri

Hukum Suami Menelantarkan Anak Istri & Tidak Diberi Nafkah

Diposting pada

Infokua.com – Hukum Suami Menelantarkan Anak Istri. Berikut ini beberapa hal yang bisa kita pelajari tentang apa saja yang menjadi dasar hukum seorang suami meninggalkan dan menelantarkan anak istrinya.

Jangankan menelantarkan, bahkan ada juga hukum suami tidak memberi nafkah kepada anak, baik dalam Undang – Undang maupun hukum dalam Islam.

Beberapa artikel yang sudah dibahas serupa oleh Info KUA juga seperti Hukum Suami Meninggalkan Istri. Jadi, seperti bagaimana hukum meninggalkan istri lebih dari 3 bulan?

Nah kali ini adalah tentang hukum Islam suami tidak menafkahi istri selama 3 bulan, termasuk hukum suami tidak menafkahi batin istri selama 3 bulan.

Karena beberapa penjelasan juga terkait beberapa pertanyaan tentang syarat istri menggugat cerai suami yang bisa dilakukan oleh seorang istri terhadap suaminya.

Apakah ada dasar hukum meninggalkan istri lebih dari 3 bulan, terlebih jika suami tidak memberikan nafkah selama 3 bulan.

Dalam hal itu apakah sudah mencukupi sebagai syarat pengajuan cerai? Termasuk di dalamnya terkait unsur unsur pasal penelantaran istri dan anak.

Sehingga, istri minta cerai karena suami tidak memberi nafkah kepada dirinya dan juga anak-anaknya.

Penjelasan Hukum Suami Menelantarkan Anak Istri

Hukum Suami Menelantarkan Anak Istri
Ilustrasi – Hukum Suami Menelantarkan Anak Istri

Seorang istri jauh dari suami wajibkah diberi nafkah? Demikian juga terhadap seorang anak? Lalu bagaimana dan apa hukum seorang suami yang meninggalkan istri dan anak tanpa kabar, sampai anak dan istrinya terlantar.

Kepergian seorang suami, seorang ayah kepada keluarganya tanpa memberikan sedikitpun nafkah lahir dan batin? Lalu bagaimana seorang anak dan istri bersikap atas apa yang dilakukan suaminya tersebut?

Yang perlu dipahami adalah hak dan kewajiban suami istri setelah menikah. Termasuk dengan Hak Suami atas Istri. Seorang suami adalah kepala rumah tangga.

Kepala rumah tangga memiliki kewajiban untuk melindungi anak dan istrinya, dan berusaha memberikan nafkah sebagai upaya memenuhi kebutuhan hidup rumah tangga sesuai dengan kemampuannya.

Termasuk dalam hal ini adalah memberikan tempat tinggal dan biaya keperluan istri dan anaknya. Suami juga merupakan orang tua bagi anaknya, sehingga wajib memelihara dan mendidik anak dengan baik.

Sebagaimana hak istri atas suami dan anak yang juga demikian penting untuk diperhatikan dalam hal pemenuhan kebutuhan rumah tangga.

Demikian juga suami dalam memberikan biaya pendidikan dan perawatan bagi seorang anak yang terus tumbuh dan berkembang, serta dewasa sampai akhirnya sang anak dapat melangsungkan menikah dan hidup mandiri.

Beberapa pendapat menjelaskan, bahwasannya, seorang suami yang meninggalkan anak dan istri tanpa kabar, dan tidak memberikan nafkah baik nafkah lahir maupun batin disebutkan dapat dipidana.

Pidana yang menjerat suami yang menelantarkan anak dan istri adalah penelantaran rumah tangga.

Dasar Hukum Suami Menelantarkan Anak dan Istri

Hukum Suami Menelantarkan Anak Istri
Ilustrasi – Hukum Suami Menelantarkan Anak Istri

Beberapa dasar hukum yang bisa dipelajari terkait hukum suami menelantarkan anak dan istri adalah sebagai berikut:

  • Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan;
  • Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan;
  • Pasal 34 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (“Undang Undang Perkawinan”) jo. Pasal 80 ayat (2) dan (4) butir a dan b Kompilasi Hukum Islam (“Kompilasi Hukum Islam”)
  • Pasal 45 Undang Undang Perkawinan jo. Pasal 80 ayat (4) butir b dan c Kompilasi Hukum Islam.
  • Pasal 19 huruf b Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Pasal 116 huruf b Kompilasi Hukum Islam.

Pasal 9 Undang Undang Nomor 23 Tahun 2004

Dijelaskan di atas bahwasannya, seorang suami merupakan kepala rumah tangga yang memiliki banyak kewajiban terhadap istri dan anaknya.

Dalam hal ini kewajibannya termasuk dalam melindungi istri dan memberikan nafkah baik lahir maupun batin sehingga apa yang menjadi kebutuhan hidupnya sesuai syariat agama Islam dapat terpenuhi.

Contoh lain juga termasuk dapat memberikan tempat tinggal yang layak dan biaya hidup bagi istri dan anak anaknya.

Sebab seorang suami juga termasuk orang tua yang memiliki kewajiban untuk memenuhi hak dasar anak dalam meraih pendidikan.

Kewajiban dalam memberikan biaya dan perawatan sampai anak tumbuh dewasa hingga menikah dan hidup mandiri bersama istrinya.

Bahkan nafkah seorang suami berhak diberikan juga baik dalam keadaan perkawinan suami dan istri bercerai sekalipun.

Maka seorang suami yang menelantarkan, meninggalkan istri dan anak tanpa adanya kabar dan maksud kepergianya sehingga tidak memberikan nafkah lahir dan batin adalah pelanggaran atas kewajiban suami terhadap istrinya.

Demikian juga melanggar kewajiban suami sebagai orang tua terhadap anak. Hal ini berdasarkan Undang Undang perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam (KHI).

Nah, ketentuan KHI ini akan berlaku jika seorang suami beragama Islam. Jika penelantaran terjadi, dalam hal ini tindakan hukum yang didapatkan adalah tindakan menelantarkan istri dan anak.

Ini sesuai dengan yang tertulis dalam Pasal 9 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (“UU Penghapusan KDRT”) :

  1. Setiap orang dilarang menelantarkan orang dalam lingkup rumah tangganya, padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan atau perjanjian ia wajib memberikan kehidupan, perawatan, atau pemeliharaan kepada orang tersebut.
  2. Penelantaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) juga berlaku bagi setiap orang yang mengakibatkan ketergantungan ekonomi dengan cara membatasi dan/atau melarang untuk bekerja yang layak di dalam atau di luar rumah sehingga korban berada di bawah kendali orang tersebut.

Langkah Hukum Yang Dapat Diambil Anak & Istri Yang Ditelantarkan Suami (Ayah)

Jika pada kenyataan ini yang terjadi dalam rumah tangga, seorang istri maupun seorang anak yang ditelantarkan bapak/suami maka bisa memperkuat dengan bukti bukti yang cukup, demikian juga saksi.

Sehingga dengan kelengkapan alat bukti dan saksi saksi, seorang istri dapat melaporkan suaminya kepada kepolisian setempat atas dugaan tindak pidana penelantaran.

Jika dilihat dalam Pasal 49 Undang Undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, jika seorang suami dinyatakan bersalah atas suatu putusan pengadilan berkekuatan hukum tetap, suami tersebut dapat dipidana dengan penjara paling lama 3 tahun atau denda paling banyak Rp15 juta.

Selanjutnya, tindakan penelantaran yang dilakukan oleh suami tersebut juga dapat menjadi alasan seorang istri gugat cerai suami.

Namun lihat dulu berapa lama suami meninggalkan dan menelantarkan tanpa kabar dan tanpa menafkahi. Setidaknya 2 tahun berturut-turut tanpa izin dan tanpa alasan yang sah.

Jika dilakukan 2 tahun berturut turut ditinggalkan, maka istri dapat mengajukan gugatan cerai terhadap suami, jika memang itu menjadi jalan terbaik.

Baca Juga: Hukum Istri Minta Cerai Dalam Islam, Ini Yang Boleh & Tidak

Jadi itulah beberapa hal yang bisa kita coba pahami tentang apa saja yang menjadi landasan dasar hukum suami menelantarkan anak istri.

Bagaimana bersikap, karena ada pidana dan bisa menjadi dasar untuk bercerai. Namun jika memang masih bisa dikomunikasi dengan baik apa salahnya dikomunikasikan dengan baik.

Kembali membangun motivasi menikah yang baik, memperkuat visi dan misi, sehingga bisa menjaga keharmonisan rumah tangga. Termasuk dengan cara cara menjaga keharmonisan rumah tangga.

Sekian yang bisa disampaikan. Semoga informasi yang disampaikan ini bisa bermanfaat bagi kita semua. Sekian, terimakasih. Salam.

One thought on “Hukum Suami Menelantarkan Anak Istri & Tidak Diberi Nafkah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *