hukum istri mengucapkan cerai
hukum istri mengucapkan cerai

Hukum Istri Mengucapkan Cerai, Ini Penjelasannya

Diposting pada

Infokua.com – Hukum istri mengucapkan cerai. Dalam setiap hubungan pernikahan tentunya memiliki tujuan utama yang mulia yaitu membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah seperti yang diterangkan dalam firman Allah SWT. dalam Surat Ar-Rum ayat 21.

Akan tetapi, seiring dengan berjalannya waktu dan juga kondisi serta keadaan dalam setiap rumah tangga akan ada masa dimana terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti sering terjadi percekcokan, konflik, kesalah pahaman, dan lain sebagainya.

Bumbu-bumbu rumah tangga yang terlalu sering terjadi itulah yang kadang membuat keadaan rumah tangga tidak harmonis lagi, baik suami maupun istri merasa telah kehilangan keromantisan di antara keduanya.

Yang akhirnya membaut keduanya harus pisah. Baik ada kata kata cerai yang keluar dari sang istri. Atau ucapan talak dari sang suami. Lalu bagaimana sih hukum istri mengucapkan cerai

Dan bagaimana juga jika istri gugat cerai suami menolak, bagaimana pula menghadapi istri minta cerai, selengkapnya Baca : Istri Gugat Cerai Suami Menolak, Ini Penjelasannya.

Hukum Istri Mengucapkan Cerai atau Kata Pisah

hukum istri mengucapkan cerai
hukum istri mengucapkan cerai

Menurut hukum islam yang berlaku di Indonesia, hak talak hanya berada di pihak suami. Jadi meskipun istri kerap kali mengucapkan kata pisah ataupun cerai maka hal itu tidak berlaku.

Lain halnya jika istri langgsung menggugat cerai melalui pengadilan agama kemudia pengadilan agama mengabulkan gugatan tersebut maka perceraian dapat terjadi.

Pengadilan sendiri sudah memiliki prosedur yang harus ditaati, kemudian pengadilan akan mempertimbangkan apakah alasan istri menggugat cerai suami berdasarkan alasan yang kuat dan dapat disesuaikan dengan ketentuan yang ada.

Misalnya ada tindak kekerasan yang dilakukan suami, atau suami tidak memberi nafkah baik secara lahir maupun batin. Perceraian tergantung kepada pertimbangan yang sangat matang.

Diriwayatkan dari Tsauban Radhiyallahu ‘Anhu ia berkata:

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Siapa saja wanita yang meminta (menuntut) cerai kepada suaminya tanpa alasan yang dibenarkan maka diharamkan bau surga atas wanita tersebut.”

(HR. Abu Dawud, Al-Tirmidzi, dan Ibnu Majah. Dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud)

Hukum Istri Meminta Cerai dan Suami Mengiyakan

Jenis talak ada dua, talak dalam bentuk kalimat tegas (shahih) dan talak dalam bentuk tidak tegas (kinayah). Berikut yang bisa kita ketahui, di antaranya adalah:

1. Talak shahih

Intinya dalah suami menceraikan langsung dengan sangat lugas dan jelas tanpa ada pengertian lain.

Misalnya “Kamu saya talak…”

kalimat tersebut tidak memiliki arti selain perceraian, sehingga disebut dengan talak shahih.

2. Talak Kinayah

Lafadz talak kinayah (tidak tegas) adalah lafadz talak yang masih ambigu, karena pada pengucapkannya mengandung kemungkinan atau pengertian lain. Misalnya “Pulanglah ke orang tuamu…”

Untuk hukumnya,talak sahih hukumnya sah meskipun disebutkan dengan tidak niatan bercerai. Sedangkan untuk talak kinayah disesuaikan dengan niat pemberi talak apakah memang berniat untuk menceraikan atau tidak.

Lalu bagaimana jika suami mengiyakan perkatan cerai istri?

Ada beberapa penjelasan tentang hukum istri mengucapkan cerai dan suami mengiyakan. Di antaranya adalah:

Menurut para ulama, ketika suami mengiyakan ucapan cerai istri maka hukumnya masuk kepada talak kinayah. Sebab perkatakan iya dari suami masih memiliki arti yang ambigu, karena memiliki dua makna yaitu:

  1. Ya, kamu saya talak, sehingga jatuh talak
  2. Ya, kamu akan saya talak, sehingga bentuknya janji talak.

Untuk itu, ketika suami mengiyakan ajakan talak istrinya, apakah dia tertalak atau tidak, kembali kepada niat suami..

Al-Hamawi – ulama Hanafi – mengatakan,

قالت له أنا طالق فقال : نعم إلخ . الفرق بين المسألتين أن معنى نعم بعد قولها أنا طالق نعم أنت طالق ومعناها بعد قولها طلقني نعم أطلقك فيكون وعدا بالطلاق لأنها لتقرير ما قبلها

Istri yang mengatakan ke suaminya,

“Saya diceraikan!”

lalu suami mengatakan, “Ya.”

(di sini) ada masalah yang perlu dibedakan, bahwa makna suami meng-iyakan pernyataan istrinya, “Saya dicerai!” berarti, ‘Ya, kamu dicerai’ (maka cerai sah).

Dan makna suami meng-iyakan ajakan istri, “Ceraikan saya!” bararti, ‘Ya, saya akan ceraikan kamu.’

Sehingga maknanya adalah janji talak.. karena kata, ‘Ya’ adalah untuk menegaskan pernyataan sebelumnya. (Ghamzu Uyun al-Bashair, 2/400).

Istri Minta Cerai Apakah Sudah Jatuh Talak

Jadi tak sekedar yang bisa kita bahas kali ini hanya hukum istri mengucapakan cerai. Tetapi juga ketika istri minta cerai.

Sebab, akan ada kebingungan ketika istri meminta cerai, apakah dengan begitu sudah jatuh talak? Mari simak syarat-syarat jatuhnya talak berikut ini agar lebih memahami bagaimana hukum jatuhnya talak terhadap seorang istri.

Istri yang ditalak sah

Istri sah yang dimaksud kali ini maksudnya adalah istri yang masih ada masa iddah. Mkasudnya adalah istri yang sudah digauli sehingga ketika diceraikan ada masa iddah.

Jika istri ditalak sebelum digauli atau belum pernah berduaan, maka ia tidak ada masa iddah. Talak yang dijatuhkan pun tidak sah karena talak tersebut terhitung sebagai nikah yang faskh (batal).

Talak yang tidak mengandung makna lain

Talak yang sah adalah talak sahih atau talak yang tidak mengandung makna lain maksudnya talak ketika diucapkan berisi kata-kata dengan makna yang tegas.

Misalnya, “Saya talak kamu,” atau “saya ceraikan kamu.” Talak yang sah adalah talak yang tidak memiliki arti lain selain perceraian.

Apabila suami menjatuhkan talak dengan kata-kata yang ambigu seperti “pulang saja kamu ke rumah orang tuamu!”

Maka itu belum dianggap sebagai talak yang mengetahui niat dari perkataan tersebut hanya sang suami. Talak seperti ini disebut dengan talak kinayah.

Talak yang diucapkan dengan lisan

Rasulullah bersabda:

“Tiga perkara yang serius dan bercandanya sama-sama dianggap serius: (1) nikah, (2) talak, dan (3) rujuk”

Meskipun diucapkan dengan bercanda, namun bila dilisankan langsung oelh suami maka akan dianggap sebagai talak. Namun demikian talak tersebut kesahannya tetap bergantung pada niat sang suami.

Oleh karena itu, mohon untuk senantiasa menjaga lisan. Hukum ini sebenarnya bertujuan agar kita bisa menjaga lisan kita dalam kondisi apapun karena bahkan yang dianggap bercanda pun memiliki arti yang serius.

Talak dengan Tulisan

Bagaimana jika suami menjatuhkan talak kepada istri melalui pesan singkat? Talak tak hanya sah ketika diucapkan langsung menggunakan lisan.

Tapi juga sah ketika disampaikan melalui tulisan. Talak melalui tulisan ini dapat berubpat surat pernyataan dan dalam bentuk pesan singkat.

Namun yang harus ditekankan, harus ada bukti yang kuat jika yang menyampaikan talak tersebut benar adanya adalah suami.

Misalnya dalam menandatangani surat pernyataan tersebut disertai beberapa saksi yang bisa dipercaya kejujurannya.

Talak dengan isyarat

Talak ini khusus untuk mereka yang tidak memiliki kemampuan untuk mberbicara sehingga tidak mampu untuk menyampaikan maksudnya.

Talak ini bisa digunakan bagi mereka yang bisu, sehingga ketika akan menjatuhkan talak menggunakan bahasa isyarat.

Baca Juga: Syarat Pengajuan Cerai Oleh Suami 2019/2020

Dengan macam-macam syarat di atas dapat disimpulkan hukum istri mengucapkan cerai, bahwa jika istri yang minta cerai maka hal itu belum jatuh talak sebelum suami menyetujui permintaan istri kemudian melakukan persidangan cerai.

3 thoughts on “Hukum Istri Mengucapkan Cerai, Ini Penjelasannya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *