hak suami atas istri
Ilustrasi Pixabay : Hak Suami Atas Istri

Hak Suami Atas Istri? Simak Baik-Baik, Ini Penjelasannya

Diposting pada

Infokua.com – Hak Suami Atas Istri ini pernah diriwayatkan oleh Tamim Ad-Dari, kata dia, bahwasaannya Rasulullah bersabda:

“Hak suami atas istrinya: ia tidak boleh meninggalkan tempat tidur suami, harus menerima dengan baik bagian yang diberikan suami, mentaati perintahnya, tidak keluar rumah kecuali atas izinnya, dan tidak memasukkan (orang) yang tidak disukai suami.”

Hadits ini diriwayakatkan oleh imam Thabrani dalam “Al-Ausathnya”. Pada silsilah perawinya terdapat Dhirar Bin Amr, ia termasuk dha’if (Mujma’ Az-Zawid, IV/314).

Dari sabda Rasulullah tersebut sebenarnya sudah jelas dan gamblang apa saja yang menjadi hak suami atas apa yang diperoleh dari istrinya. Mari kita bedah satu per satu artikel pernikahan kali ini:

Hak Suami Atas Istrinya Dalam Islam

Ada beberapa hak yang harus ditaati oleh sang istri. Kurang lebihnya ada 9 hak suami yang ada pada seorang istri. Di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Mentaati suami
  2. Hendaklah si istri tidak meninggalkan tempat tidur suami
  3. Seorang istri tidak boleh keluar rumah tanpa seizin suaminya
  4. Memelihara harta suami serta rela atas rezeki dari Allah terhadapnya
  5. Melayani suami ketika di rumah
  6. Memelihara kebersihan diri dan berhias untuk suaminya
  7. Mendidik anak-anaknya
  8. Menjaga diri serta teguh memegang ummat
  9. Hak-hak lain.

Mari kita kaji satu per satu, point-point di atas:

1. Mentaati Suami

hak suami atas istri
Ilustrasi Pixabay : Hak Suami Atas Istri

Hak suami atas istri yang pertama adalah Istri harus mentaati semua perintah suami selama perintah itu dalam hal hal yang diperbolehkan syariat.

Sebaliknya, ia tidak boleh menaatinya, bila perintah suami mengandung unsur maksiat kepada Allah. Sebab, tidak ada ketaatan seseorang dalam rangka maksiat kepada Allah Sang Khaliq. Seperti kisah berikut ini:

Suatu ketika datanglah seorang perempuan menghadap Nabi, yang telah menikahkan anak gadisnya dengan seseorang.

Sedang rambut anak gadisnya banyak yang rontok. Maka perempuan tadi berkata kepada Rasul. “Suaminya menyuruh saya untuk menyambung rambutnya.”

Maka Rasulullah bersabda, “Jangan, sebab Allah melaknati perempuan-perempuan yang menyambung rambutnya.” (Hadits riwayat Al-Bukhari (5205) dan Muyslim (2122-2123).

Bahkan, Imam Bukhari menuliskan bab khusus dalam masalah ini, yang diberi nama: ‘Bab la tuthi’u Al-Mar’ah Zaujaha fi Ma’shiyah’. Yakni, bab, istri tidak boleh menaati suami dalam kemaksiatan.

Selanjutnya, dalam banyak hadits, Rasulullah memerintahykan para istri agar mentaati suami dan memperingatkannya agar tidak membangkang terhadap suaminya.

Abu Hurairah meriwayatkan, ia berkata, “Rasulullah ditanya, ‘Siapakah sebaik-baik perempuan itu?’ Jawab Rasul, “Ialah yang jika dipandang suaminya menyenangkan,

jika diperintah ia taat, dan tidak membantah untuk memenangkan diri sendiri, serta tidak menentangnya dalam hal harta dengan mendatangkan sesuatu yang tidak disukai suaminya.”

Rasulullah bersabda:

“Jika istri menunaikan shalat lima waktu, memelihara kemaluannya, dan taat pada suaminya, maka ia akan masuk surga melalui pintu mana saja yang ia kehendaki.”

Sabda tersebut seperti yang diriwayatkan dalam hadits riwayat Ibnu Hibban (4151), dan Abu Nu’aim dalam Hilyahnyya (Vi/308).

Sungguh Islam telah memberikan penghargaan serta balasan besar atas ketaatan istri kepada suaminya. Islam menempatkan ketaatan tersebut sejajar dengan jihad di Jalan Allah.

2. Hendaklah si istri tidak meninggalkan tempat tidur suami

hak suami atas istri
Ilustrasi Pixabay : Hak Suami Atas Istri

Di antara tujuan nikah adalah tercapainya penyaluran biologis antara suami dan istri. Ia merupakan mendasar bagi makhluk makhluk Allah di muka bumi ini.

Dengan adanya istri, suami dapat terjaga dari rayuan setan, kebutuhan biologisnya terpenuhi, nafsu syahwatnya terkendali, penglihatan dan kemaluannya terjaga,

Jiwanya merasa nyaman dan senang bersama istri yang senantiasa di sampingnya, dan bahkan semangat ibadahnya bisa terpacu dengan itu semua.

Si istri tidak boleh menolak ajakan suami. Kapan pun ia berkehendak untuk melakukan hubungan suami istri, selagi tidak ada halangan-halangan syar’i padanya.

Terdapat haits-hadits shahih mengenai hal ini, di antaranya: diriwayatkan Abu Hurairah, Rasulullah bersabda:

“Jika suami mengajak istrinya ke atas ranjang, kemudian ia menolaknya, maka para malaikat melaknatinya hingga waktu subuh.”

Dalam riwayat yang lain,

“Apabila seorang istri tidur meninggalkan ranjang suaminya, maka para malaikat akan melaknatinya hingga ia kembali menempatinya.”

Ini seperti yang disampaikan dalam hadits riwayat Bukhari (5193-5194), Muslim (1436), Ahmad (2/439 dan 480), Ibnu Hibban (4161).

3. Seorang istri tidak boleh keluar rumah tanpa seizin suaminya

Seperti yang diriwayatkan Mu’adz bin Jabal, Rasulullah bersabda:

“Tidak halal seorang istri mengizinkan (orang lain) memasuki rumahnya sedang suaminya membenci itu. Dan ia tidak boleh keluar rumah sedang suami tidak menyukainya.”

Ini seperti yang diriwayatkan Ahmad (III.80, 85), Abu Dawud (2459). Mereka para pekerja yang tidak tidur di malam hari.

Mereka mengairi kebun-kebuyn sepanjang malam. Maka bila mereka tidur di akhir malam, mereka tak kuasa bangun untuk menunaikan shalat subuh.

Maka Rasulullah menyuruh mereka menunaikan shalat bila telah bangun tidur. Hal ini sebagai bentuk kemurahan dan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya dan juga merupakan belas kasih.

Rasulullah kepada umatnya. Ada kemungkinan bahwa hal itu hanya terjadi kadang-kadang saja.

Ibnu Umar juga meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:

“Perempuyan adalah aurat. Jika ia keluar dari rumahnya, setan mengikutinya, dan sesungguhnya ia tidak dapat lebih bertaqarrub kepada Allah kecuali di dalam rumahnya.”

Dalam hadits lain, ia juga meriwayatkan, bahwa ada seorang perempuan datang kepada Rasulullah dan berkata, “Ya Rasulullah, apakah hak suami atas istrinya?’ Rasulullah kemudian bersabda,

“Istri tidak boleh menolak keinginan meski sedang di atas pelana punggung unta, atau memberikan sesuatu dari yang ada di rumah suami tanpa seizinnya.

Jika ie malakukan itu (menolak dan memberikan tanpa izin), maka si suami mendapat pahala sedang ia berdosa. Dan ia tidak boleh berpuasa sunnah kecuyali dengan izinnya.

Dan bila ia melakukan itu, ia berdosa dan tidak mendapat pahala. Ia juyga tidak boleh keluar rumah, kecuali atas izin suami.

Jika ia melanggar itu, para malaikat melaknatnya, yaitu malaikat pemarah dan malaikat penyayan sampai ia (istri) kembali ke rumahnya.”

4. Memelihara harta suami serta rela atas rezeki dari Allah terhadapnya

cara mengambil hati calon mertua

Di antara bentuk tanggungjawab suami adalah memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarga (materi), jika ia memang memilikinya. Jika tidak, ia harus berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan itu guna memenuhi hajat keluarganya.

Kewajiban suami adalah memberikan nafkah kepada keluarganya sesuai dengan kadar kemampuannya, baik ia dalam kondisi lapang maupun sulit dengan tidak berlebih-lebihan atau kikir.

Selanjutnya, istri adalah pemimpin di rumah suaminya dan ia akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya, sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih pada pembahasan terdahulu.

Istri yang pandai dan cekatan adalah yang senantiasa berupaya dengan penuh rasa tanggung jawab memelihara harta benda milik suaminya, yang itu sebagaimana Nabi telah memerintahkannya pada hadits terdahulu.

Dan istri muminah adalah yang ridha dengan nafkah yang diberikan suami padanya sesuai dengan kemampuan yang Allah berikan padanya, baik dalam keadaan susah dan lapang.

Istri yang mukminah, bila kebetulan mendapatkan suami yang bakhil dan pelit meski sebenarnya ia kaya, maka, ia dibolehkan mengambil harta suaminya tanpa seizinnya hanya sebatas yang dapat mencukupi kebutuhannya serta kebutuhan anak-anaknya.

Suatu ketika Hindun binti Atabah istri Abu Sofyan, datang mengadu kepada Rasulullah ihwal sifat bakhil suaminya terhadap dirinya juga anak-anaknya.

Ia berkata, “Wahai Rasulullah, Abu Sofyan adalah laki-laki yang bakhil, ia tidak memberikan nafkah yang cukup kepada saya juga anak-anak saya, kecuali sebagian harta yang saya ambil tanpa sepengetahuannya.

Apakah yang saya lakukan itu dosa?” Nabi menjawab, “Ambillah dengan cara yang baik harta suyamimu yang dapat mencukupimu serta anak-anakmu!”

Ini seperti dalam hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari (3564), Muslim (1714), Abu Dawud (3532), An-Nasa’i (VIII/246-247), Ibnuy Majah (2293), Ad-Darimi (2259), Ahmad (VI/39, 50, 206) dari Aisyah.

6. Memelihara Kebersihan diri dan berhias untuk suaminya

hak suami atas istri
Ilustrasi Pixabay : Hak Suami Atas Istri

Memelihara kebersihan diri dan berhias untuk suaminya adalah salah satu hak suami atas istri. Untuk itu, sebaik-baiknya istri juga adalah yang behias diri hanya untuk suaminya.

Sehingga hiasan istri tidak untuk yang lain, kecuali suaminya. Itulah hal suami yang harus didapatkan atas istrinya.

7. Mendidik anak anaknya.

Sesungguhnya, tugas paling baik dan mulia bagi istri adalah ia dapat mendidik sendiri anak-anaknya dan tidak menyerahkan kepada pembantu atau orang lain.

Inilah tugas utamanya dalam rangka membentuk masyarakat yang Islami. Rasulullah pernah bersabda:

“Istri adalah pemimpin di tengah keluarganya, dan akan dimintai pertanggungjawaban akan hal itu.”

Nabi pernah memuji perempuan yang mengasuh anak-anaknya. Beliau bersabda:

“Sebaik-baiknya perempuan yang menunggang unta adalah perempuan-perempuan Quraisy yang shalih, yaitu, yang paling sayang kepada anaknya di masa kecil, serta yang paling dapat menjaga harta benda suaminya.”

Haidts ini mengisyaratkan keutaman yang dimiliki wanita wanita Quraisy. juga sifat sifat mereka. Yaitu, kasih sayang penuh kepada anak-anaknya, memberikan pendidikan yang baik kepada mereka, serta pemeliharaan yang baik jika mereka dalam keadaan yatim.

Juga bentuk ihwal lain seperti memelihara hak suami yang terkait dengan harta bendanya, menjaga amanah atasnya, baik dalam mengelola maupun ketika menggunakannya, sehingga tidak sampai menghamburkannya dalam membelanjakannya.

8. Menjaga diri serta teguh memegang ummat

hak suami atas istri
Ilustrasi Pixabay : Hak Suami Atas Istri

Dalam hadits Abu Musa Al-Asy’ari, Rasulullah bersabda:

“Barang siapa menjaga sesuatu yang ada di antara dua rahangnya (lidah) dan dua pahanya (kemaluan). ia masuk surga.”

Nah, sifat menjaga diri yang dimiliki seorang istri merupakan permata yang harus senantiasa dipelihara. Ia adalah senjata untuk mempertahankan kemuliaan dan kehormatannya.

Ia seperti potensi dan kekuatan yang dimiliki laki-laki.

Sikap menjaga diri si istri dalam keluarga merupakan tiang utama penyangga bangunan pendidikan anak dan keluarga, serta jalan yang lurus guna menanamkan nilai-nilai keutaman dan kemuliaan kepada anak anak.

9. Hak-hak lain suami atas istrinya

Terakhirm ada hak hak lain yang harus diperhatikan istri, antara bersikap lemah lembut dihadapan suami serta menghampirinya dengan segala yang disukai suami;

bergaul dengan baik terhadap keluarga suami, menyambut mereka dengan ramah, mengunjungi mereka, selalu mencari tahu tentang keadaan mereka, serta ikut merasa bersama mereka, baik suka atau duka.

Baca Juga: Menikah Beda Agama, Bolehkah? Ini Jawabannya

Itulah hal hal yang bisa kita pelajari tentang hak suami atas istri. Penjelasan di atas, saya kutip dari Buku Kado Pengantin terbitan Arafah.

Di lain waktu, kita akan bahas lebih lanjut, Insya Allah saya dan Info KUA terus akan mengupayakan mencari sumber refrensi yang lainnya.

Hal ini tentunya untuk memperkaya khasanah pengetahuan kita tentang apa saja yang harus dilakukan setelah menikah, dan yang tidak diperbolehkan bagi suami dan istri.

Terimakasih. Salam.