Azab Suami Durhaka Kepada Istri
Ilustrasi Azab Suami Durhaka Kepada Istri

Azab Suami Durhaka Kepada Istri, Ini Hukum & Dosanya

Diposting pada

Infokua.com – Azab Suami Durhaka Kepada Istri adalah perbuatan zalim. Beberapa di antara menyebutkan kedurhakaan suami pada istri terjadi karena suami mengabaikan perasaan istri. Sehingga menyakiti hati istri.

Ini jugalah yang menjadi dosa suami kepada istri menurut Islam. Sebab, hak istri atas suami tak dapat dipenuhi dengan baik, bahkan kewajiban suami setelah menikah diabaikan.

Lalu adakah azab suami yang menyakiti hak istri? Dan dosakah suami mengabaikan perasaan istri? Lalu apa saja balasan suami zalim dan hukum suami zalim terhadap istri?

Beberapa informasi tentang azab suami durhaka kepada istri ini juga baik untuk dipahami? Sama baiknya terkait hukum dan azab suami durhaka kepada mertua dan orang tua.

Karena ketika memahami apa saja yang dimaksud azab suami durhaka kepada istri sama halnya kita memahami terkait hukum suami zalim terhadap istri. Agar juga bisa memahami apa saja balasan suami zalim?

Azab Suami Durhaka Kepada Istri Disebabkan Oleh….

Azab Suami Durhaka Kepada Istri
Ilustrasi Azab Suami Durhaka Kepada Istri

Namun beberapa hal yang bisa dipahami adalah dijelaskan dalam Al Quran di dalam Surat An- Nisa’ telah jelas dijelaskan pada ayat 34 yang menyebutkan kaum lelaki atau suami adalah pemimpin bagi kaum wanita (istrinya).

Jadi ada kewajiban suami istri setelah menikah yang harus saling memahami. Tentunya hal hal seperti itu juga harus sudah dipahami saat penataran pra nikah.

Biasanya sudah dijelaskan oleh pihak Kantor Urusan Agama, nasihat nasihat pernikahan, terutama pernikahan dalam membentuk rumah tangga dalam Islam.

Jadi, suami memiliki kewajiban, tak hanya pada istrinya, juga terhadap anak anak dan keutuhan rumah tangganya. Dalam hal ini kewajibannya adalah mendidik, melindungi, dan menegakan kebenaran dalam hidup berumah tangga.

Bagaimana dengan istri dan anak yang ditelantarkan? Maka dalam pembahasannya ada azab suami durhaka kepada istri. Bahkan kini berita berita ada banyak sekali perlakuan yang didapatkan seorang istri dari suaminya.

Seorang suami menjadi tidak bisa bertanggung jawab dan menjaga rumah tangga, dan istrinya. Seorang suami tidak memahami bagaimana cara menjaga keharmonisan rumah tangga.

Sehingga, seorang suami bertindak zalim pada istrinya. Lalu apa saja yang dapat menjadi azab suami durhaka kepada istri, berikut contoh perbuatan perbuatan tersebut:

1. Menelantarkan istri dan tidak memberikannya nafkah

Yang pertama azab suami durhaka kepada istri disebabkan karena suami menelantarkan istrinya. Contohnya adalah seorang suami tidak memberikan nafkah.

Seperti riwayat Abu Dawud, Muslim, Ahmad, dan Ath- Thabrani, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: “Seseorang cukup dipandang berdosa bila ia menelantarkan belanja orang yang menjadi tanggung jawabnya.”

Jika dilihat dari penjelasan hadist di atas, seorang suami amat berdosa telah melalaikan kewajibannya atas istri dan anaknya. Jadi hukum suami menelantarkan anak istri adalah dosa.

Penelataran ini sebenarnya banyak contoh lain selain nafkah dan hal hal yang sudah dijelaskan di atas. Contohnya saja sebagai berikut:

  1. Sedang menjalin hubungan wanita idaman lain atau selingkuhannya.
  2. Tidak tahan sifat istri yang suka menghabiskan uang suami.
  3. Suami menganggap tidak perlu lagi untuk memberikan nafkah istrinya, karena istri punya penghasilan sendiri.
  4. Suami mementingkan kepentingan saudaranya yang lain dari pada istrinya.

2. Suami melimpahkan tanggungjawabnya kepada istri

Suami adalah pemimpin bagi keluarganya, dalam hal ini bagi istri dan anak-anaknya. Suami memiliki kewajiban yang harus dipenuhi, yakni nafkah lahir dan batin.

Sehingga, suami bekerja mencari nafkah adalah untuk mengatur segala kebutuhan rumah tangga, dan memenuhi kewajiban istri dan anaknya sesuai dengan syariat Islam.

Jadi, jika suami tidak bisa memegang tanggung jawab dengan baik, padahal ia mampu dan sehat melakukannya, namun ia memilih untuk melimpahkan tanggung jawab yang ia pikul kepada istrinya, tentu ini bertentangan dengan syariat Islam.

Ketika ini yang terjadi, maka niscayalah, keluarga yang dibangun tersebut merupakan keluarga yang tidak beruntung.

Seperti apa yang disampaikan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam dijelaskan dalam HR. Ahmad, Bukhari, Tirmidzi, dan Nasa’i yang artinya: “Tidak akan beruntung suatu kaum yang dipimpin oleh seorang wanita.“

Sehingga, yang menjadi tanggung jawab sebagai seorang pemimpin ini diambil alih oleh istrinya, maka kewajiban suami akan hilang. Bahkan hal ini juga bisa menjerumuskan istri pada perbuatan durhaka pada suaminya.

3. Suami tidak memberikan tempat tinggal layak kepada istrinya

Bagaimana dengan suami yang menceraikan istrinya dengan syarat pengajuan cerai talak yang diajukan suami ke istri terpenuhi.

Meski telah bercerai, ada kewajiban seorang suami yang belum putus, yakni berkewajiban dalam memenuhi kebutuhan tempat tinggal yang layak dan aman untuk istrinya yang akan diceraikan selama masa iddah.

Selain itu nafkah yang juga harus diberikan. Seperti apa yang dijelaskan dalam Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Ath-Thalaaq ayat 6 berikut :

أَسْكِنُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ سَكَنْتُمْ مِنْ وُجْدِكُمْ وَلَا تُضَارُّوهُنَّ لِتُضَيِّقُوا عَلَيْهِنَّ وَإِنْ كُنَّ أُولَاتِ حَمْلٍ فَأَنْفِقُوا عَلَيْهِنَّ حَتَّى يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ فَإِنْ أَرْضَعْنَ لَكُمْ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ وَأْتَمِرُوا بَيْنَكُمْ بِمَعْرُوفٍ وَإِنْ تَعَاسَرْتُمْ فَسَتُرْضِعُ لَهُ أُخْرَى

Artinya:

“Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuan kamu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. dan jika mereka (istri-istri yang sudah di talak) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin, Kemudian jika mereka menyusukan (anak-anakmu) untukmu, maka berikanlah kepada mereka upahnya, dan musyawarah kan lah di antara kamu (segala sesuatu) dengan baik; dan jika kamu menemui kesulitan Maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya.”

4. Tidak mau melunasi mahar pernikahan yang di hutang

Ada beberapa pertanyaan yang masuk, dalam hal ini adalah tentang mahar pernikahan yang telah di hutang dan belum dilunasi. Bahkan suami tidak mau melunasi hutang mahar pernikahan dalam hal ini contohnya mas kawin.

Jika benar seorang suami tidak berniat untuk melunasi hutang maharnya, artinya suami tersebut telah menipu istrinya dan ia akan bertanggungjawab di akhirat.

Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam yang artinya:

“Siapa saja laki laki yang menikahi seorang perempuan dengan mahar sedikit atau banyak,tetapi dalam hatinya bermaksud tidak akan menunaikan apa yang menjadi hak perempuan itu,berarti ia telah mengacuhkannya. Bila ia mati sebelum menunaikan hak perempuan itu, kelak pada hari kiamat ia akan bertemu dengan Allah sebagai orang yang fasik…’” (HR. Thabarani)

5. Mahar pernikahan diambil kembali dan istri tidak meridhoinya

Islam memandang mahar pernikahan adalah dengan tujuan untuk menghormati kedudukan seorang istri dan juga sebagai tanda kekuasaan seorang wanita atas seorang laki-laki yang telah menikahinya.

Maka, bagi seorang pria yang memiliki niat untuk menceraikan istrinya, ia meminta kembali mahar yang diberikannya saat awal menikah tanpa ada ridho dari istri, hal ini adalah perbuatan tercela.

Demikian juga Allah SWT tidak menyukai perbuatan tersebut. Bahkan perceraian pun meski diperbolehkan, namun Allah tidak menyukai adanya perceraian.

6. Melakukan hubungan suami istri, tetapi istri sedang dalam keadaan haid atau melalui dubur

Perhatikan beberapa penjelasan berikut ini, terkait bagaimana melakukan hubungan suami istri. Sebab, sudah jelas disebutkan di dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 222.

Yakni, tentang larangan seorang suami melakukan hubungan suami istri di saat istri sedang datang bulan atau haid.

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

Artinya:

“Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: `Haid itu adalah suatu kotoran`. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka bercampur mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.”

Sementara larangan berhubungan suami istri melalui dubur juga adalah perbuatan yang dilarang dalam Islam. Seperti sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam yang artinya:

“Istri kalian adalah ladang bagi kalian, maka datangilah ladang kalian dimana dan kapan saja kalian kehendaki.’ (selanjutnya Beliau bersabda: ’Datangilah dari depan atau belakang, tetapi jauhilah dubur dan ketika haid.” ( HR. Tarmidzi)

7. Suami menuduh istri berzina tanpa ada bukti kuat

Kedzaliman seorang suami dan azab suami durhaka kepada istri juga dapat disebabkan karena suami kerap menuduh tanpa bukti bahwa istrinya telah berzina dengan orang lain.

Dalam Firman Allah SWT QS. An- Nuur ayat 6-7 dijelaskan bahwa :

وَالَّذِينَ يَرْمُونَ أَزْوَاجَهُمْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ شُهَدَاءُ إِلَّا أَنْفُسُهُمْ فَشَهَادَةُ أَحَدِهِمْ أَرْبَعُ شَهَادَاتٍ بِاللَّهِ ۙإِنَّهُ لَمِنَ الصَّادِقِينَ

وَالْخَامِسَةُ أَنَّ لَعْنَتَ اللَّهِ عَلَيْهِ إِنْ كَانَ مِنَ الْكَاذِبِينَ

Yang artinya adalah:

“Dan orang-orang yang menuduh istrinya (berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri.

Maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah.

Sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar.

Dan (sumpah) yang kelima: bahwa laknat Allah atasnya, jika dia termasuk orang-orang yang berdusta.”

8. Menganiaya dan merendahkan martabat seorang istri

Rasulullah SAW diriwayatkan melarang suami menyakiti istrinya, dan bahkan suami dilarang menjelek-jelekkan, membanding-bandingkan istrinya dengan wanita lain.

Apalagi cara yang dilakukan suami tersebut dengan menggunakan kata-kata atau ucapan dengan tujuan merendahkan martabat istrinya, baik di hadapannya sendiri maupun dihadapan orang lain.

Hal ini seperti apa yang dijelaskan dalam HR. Abu Dawud,

Sebagaimana sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wassalam dalam sebuah hadist riwayat Abu Dawud yang artinya:

“Dari mu’awiyah Al-Qusrayiri, ia berkata: ”saya pernah datang kepada Rasulullah saw.’ Ia berkata lagi: ’saya lalu bertanya: ’Ya Rasulullah, apa saja yang engkau perintahkan (untuk kami perbuat) terhadap istri-istri kami? ’Beliau bersabda: ’…janganlah kalian memukul dan janganlah kalian menjelek-jelekkan mereka.’” (HR. Abu Dawud)

9. Mengajarkan, mengajak istri untuk berbuat dosa dan memerasnya

Dalam islam jelas, seorang suami merupakan pemimpin rumah tangga dan keluarganya, baik untuk anaknya dan untuk istrinya.

Maka tak dibenarkan bagi seorang suami yang mengajarkan, mengajak dan memeras istrinya untuk melakukan perbuatan dosa yang tak sesuai dengan syariat Islam.

Seorang suami justru menjadi garda terdepan untuk mengajarkan kebaikan, serta mengajak keluarganya, anak dan istri dalam menjalankan syariat syariat Allah SWT dan sesuai apa yang diajarkan Rasulullah SAW.

Di antaranya, contoh: shalat, mengaji, zakat, dan hal hal lain yang diharapkan dapat memberi motivasi kepada istri dan anaknya untuk melakukan amal saleh.

Demikian juga seorang suami yang melakukan pemerasan kepada istrinya, memaksanya untuk melakikan perbuatan dosa.

Seorang suami yang memeras istri dan memaksanya untuk berbuat dosa. Jika suami melakukan hal seperti ini, maka di akhirat kelak, ia akan dimintai pertanggungjawaban atas Allah SWT atas apa yang dilakukan.

10. Suami kerap mencurigai istrinya dan mencari cari kesalahannya

Sebab azab suami durhaka kepada istri adalah kerap mencari cari kesalahan dan mencurigai sang istri tanpa bukti yang dapat membenarkan kecurigaanya tersebut.

Memiliki sifat yang curiga adalah sifat yang kurang baik dimiliki oleh seseorang. Termasuk dimiliki suami pada istrinya. Yang dikhawatirkan adalah rumah tangga tidak harmonis.

Sebab, dalam rasa curiga suami kepada istrinya, pasti akan timbul tuduhan kesalahan kesalahan istrinya. Jadi janganlah menjadi seorang suami yang suka mencurigai istri. Karena itu perbuatan dan sifat yang kurang baik.

Kecurigaan, dapat menimbulkan perselisihan dan percekcokan di antara suami dan istri dalam menjalani rumah tangga.

11. Mengumbar persoalan rumah tangga ke siapapun

Hubungan rumah tangga adalah kerahasiaan yang harus dijaga antar suami dan istri. Sehingga tak ada seorangpun yang berhak mengetahui persoalan di dalam rumah tangga tersebut.

Jika ada persoalan istri yang di umbar suami kepada orang banyak, baik kepada keluarga besar, maupun kepada orang lain, sama halnya suami tersebut merendahkan martabat istrinya.

12. Menceraikan istri tanpa alasan syari

Suami menceraikan istri tanpa alasan yang syar’i memang tidak dibenarkan. Untuk itu, harus tahu apa saja syarat cerai suami istri yang bisa diketahui.

Apalagi alasan bercerai cuma karena bosan, tentu perceraian ini tidak dibenarkan. Apalagi seorang istri yang benar benar harus ada syarat untuk bisa bercerai dengan suaminya.

Sehingga, suami yang ia anggap durhaka atau zalim kepadanya, harus dilihat dulu apakah perbuatannya bisa menjadi alasan atau dasar untuk bercerai. Syarat istri menggugat cerai suami juga harus sesuai dengan syariah Islam.

Jadi suami tak dapat begitu saja mencari cari alasan untuk bisa bercerai dengan istrinya. Jika ini dilakukan, ini jugalah sebab azab suami durhaka kepada istri. Terlebih suami tersebut menuduh istrinya tanpa bukti yang jelas.

Ciri Ciri Suami Durhaka Kepada Istri

Beberapa hal di atas yang dijelaskan juga termasuk ke dalam ciri ciri suami yang durhaka kepada istri.

Dapat disimpulkan ke dalam beberapa hal berikut ini, terkait apa saja yang menjadi sebab suami mendapat azab dan durhaka kepada istri. Di antaranya seperti:

  1. Menjadikan Istri sebagai Pemimpin Rumah Tangga
  2. Menelantarkan Istri
  3. Suami tidak memberikan istri tempat tinggal yang aman
  4. Suami masih menghutang mahar pernikahan dan tidak memiliki niatan untuk melunasinya.
  5. Menarik mahar perkawinan tanpa persetujuan atau ridho seorang istri yang telah ia nikahi.
  6. Suami melanggar perjanjian dengan istri, dan tak memenuhinya, meski ia sanggup untuk memenuhi janji janjinya.
  7. Suami menuduh istrinya berzina.

Selain itu ada beberapa tindakan suami yang zalim pada istrinya dan menjadi ciri ciri suami durhaka kepada istrinya. Sebab azab suami durhaka kepada istrinya juga, berikut di antaranya:

  1. Memukul (Tanpa Peringatan Terlebih Dahulu)
  2. Menyenangkan Hati Istri dengan Melanggar Agama
  3. Mengajak Istri Berbuat Dosa
  4. Memadu Istri dengan Saudari atau Bibinya
  5. Berat Sebelah dalam Menggilir Istri
  6. Menceraikan Istri Saleh
  7. Mengusir Istri dari Rumah

Baca Juga: Menghadapi Istri Minta Cerai? Ini Cara Yang Paling Ampuh

Itulah beberapa hal yang bisa coba kita pahami dan ketahui tentang apa saja yang menjadi sebab azab suami durhaka kepada istri.

Untuk itu, seorang suami setidaknya bisa bersikap adil, sesuai tujuan dalam membangun rumah tangga. Juga demikian seorang istri, dapat berlaku sebagaimana mestinya tanggung jawab dan hak sebagai seorang istri.

Sehingga, rumah tangga yang dibangun dapat rukun, dan baik selama-lamanya hingga akhir hayat. Sekian yang bisa disampaikan. Semoga informasi ini dapat bermanfaat. Terimakasih. Salam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *